Kamis, Januari 03, 2019

Ms.Ma Goddess of Revenge (Ms.Ma Nemesis) Episode 5 ~ by2206am



Flashback Tiga Bulan yang Lalu

Di dalam apartemen kecilnya yang gelap dan kumuh, tampak seorang wanita frustasi yang baru saja selesai mengetikkan surat bunuh diri.

“Akan kuberikan deposit kamar ini kepada siapa pun penemu mayatku. Kremasi tubuhku dan sebarkan abuku di Laut Selatan”


Ia berusaha menutup mata bersiap meninggalkan hari esok tanpa beban. Tetapi pertengkaran sepasang kekasih mengusik ketenangannya. Dia bangkit, memuntahkan semua pil tidur yang telah tertelan.

“Aku tetap tidak bisa mati meskipun mau karena kalian!!”, teriaknya pada orang – orang di seberang dinding.



Keesokan harinya ketika membuang sampah, Ms.Ma yang telah mengenakan kacamata dan wig memanggilnya, “Ma Ji Won cakka-nim ?”. Ji Won menoleh, menatap bingung orang yang tak dikenalnya.


Kini mereka sudah ada di dalam. Ms.Ma meminta Ji Won membubuhkan tanda tangan dan menulis kalimat motivasi di novel ‘Maze Game’ karena sang ayah sangat mengidolakan karyanya.
“Bukankah agak tidak pantas jika kamu memakai kacamata hitam diruangan ?”

Ms.Ma beralasan jika ia baru saja menjalankan operasi mata. Ji Won menanyakan siapa nama ayahnya.
Dengan mendikte, Ms.Ma menjawab, “Ma Hong Gi”. Ji Won berhenti menulis karena terkejut.


“Namanya sama dengan sang pahlawan dalam novelmu. Itu sebabnya dia menyukai novelmu”, perjelas Ms.Ma
Ji Won tidak menanggapi terlalu jauh ia pun tersenyum mendengar jawaban itu, “Seharusnya dia datang sendiri”

“Dia mendadak tidak sehat”


Ms.Ma mengamati ruangan kecil itu, matanya melihat gulungan benang rajut. Ji Won yang mengetahui arah pandang Ms.Ma lanjut berkata sambil menghela nafas, “Aku melakukan itu karena ini bagus bagi kesehatan mentalku tapi kemampuanku tidak membaik selama bertahun - tahun”


Ms.Ma menyerahkan seamplop uang sebagai ucapan terimakasih namun Ji Won malah tersinggung, “Bukan uang yang dibutuhkan penulis”

“Astaga, aku melakukan kesalahan. Aku minta maaf”


Sebagai permintaan maaf Ms.Ma mentraktirnya makan. Ji Won bingung  harus mengatakan apa karena makanan yang terhidang hanya berupa nasi kotak kecil dengan lauk seadanya.


“Aku sudah menyiapkan makanan yang disukai pahlawan dalam novelmu. Ayahku sangat ingin memakan makanan ini bersamamu”, ujar Ms.Ma sembari mengusap air mata kebohongan.



Ji Won menggaruk – garuk lehernya malas, ia berjanji akan menemui ayah Ms.Ma jika dia sudah pulih.
Ms.Ma memberikan kode kepada pelayan, sehingga kini banyak makanan nikmat yang telah terhidang di atas meja. Ji Won memandang takjub sampai menelan ludah.



Mereka tampak berbicara akrab sembari menikmati sebotol anggur setelah beberapa jam berlalu. Ms.Ma terus menuangkan minuman alkohol itu, membuat Ji Won semakin mabuk dan mulai menceritakan berbagai masalah hidupnya, “Novel pertamaku cukup sukses, tapi yang kedua gagal total”


“Setelah kegagalan itu si penerbit yang menyombongkan diri akan memiliki anak pada usia 50 meninggalkanku”

“Si editor yang selalu bangga memenangkan kontes sastra musim semi tahunan tidak mau lagi menemuiku. Semua orang meninggalkanku”, curahnya dengan suara bergetar.


Ji Won kehilangan semangatnya sebagai seorang penulis. Ia berkeinginan bisa menciptakan karya di suatu tempat dengan kebun yang sangat besar disertai pemandangan laut.
“Oh iya, akan tampak lebih baik jika ada kolam renangnya juga”



Ji Won kaget karena tiba - tiba sudah terbangun di tempat yang diimpikannya. Ia keluar, menjerit berteriak bahagia.
“Ini vila teman ayahku”, jawab Ms.Ma berjalan menghampiri dari belakang


Ms.Ma lanjut menjelaskan jika tempat ini sangat terpencil sehingga tidak bisa menangkap sinyal ponsel.

Ms.Ma bilang  akan meminjamkan tempat ini selama setengah tahun. Ji Won tak sanggup berkata - kata, ia kemudian melangkah mendekat dan melepas kacamata Ms.Ma. Tentu ia terkejut menyadari kemiripan wajah mereka.“Bagaimana ini bisa terjadi ? Kamu siapa ?", tanyanya dengan nada bergetar.


Ekspresi wajah Ms.Ma langsung berubah menakutkan, “Seseorang yang bisa memberi semua keinginanmu atau seseorang yang bisa membuatmu kehilangan segalannya”, jawabnya sambil mencekik sang penulis.

Kita tidak diperlihatkan adegan selanjutknya karena kini Ms.Ma telah berada di dalam apartemen dan mulai menyamar menggunakan identitas Ma Ji Won.



Flashback End
Meski bingung tetapi Ms.Ma bisa segera memutar otak dan mengikuti arus kebohongan wanita yang ada di depannya, “Sedang apa kamu disini ?”

“Sedang apa aku disini ? Karena bibi aku telah...”, ucapnya tidak dilanjutkan

“Apa bibi tidak senang melihatku ?”

“Kenapa aku harus senang melihatmu?”, tanya Ms Ma ketus.



Wanita itu menyudahi percakapan dan berbalik menatap det.Han, “Sedang apa mereka disini ?”

“Bibi salah dikira sebagai wanita yang membunuh putrinya lagi ?”, tanyanya sambil tertawa lebar



Kebohongan itu sukses menyelamatkan Ms.Ma, sementara Jung Hee memperhatikan dari balik jendela.
Perhatian Jung Hee teralih karena seseorang mengirimkan pesan menanyakan jam dimulainya kelas bahasa Jepang.
Pria di belakangnya menanyakan apa yang sedang terjadi di luar sampai - sampai membuat Jung Hee mematung begitu lama di depan jendela.

“Sesuatu yang hanya bisa dilihat dalam film sedang terjadi”, sahut Jung Hee



Ms.Ma ditemani wanita tadi menemui perwakilan Perusahaan Highness. Mereka mengkhawatirkan Ms.Ma yang menghilang dan tidak bisa dihubungi.
Wanita tadi memberikan kode kedipan mata menyuruh Ms.Ma kembali berbohong, “Bukankah kontrak kita sudah habis ?”


“Kita tidak boleh mengakhirinya seperti ini. Kami menyukai idemu untuk novel barumu”

“Ideku ?”, tanya Ms.Ma tak mengerti

“Ada wanita yang difitnah telah membunuh anaknya. Dia melarikan diri dari penjara untuk membersihkan namanya dan menemukan pelaku sebenarnya”

“Setelah itu, dia memecahkan banyak kasus pembunuhan dan mendekati pembunuh perlahan - lahan”, jelas si laki - laki


Ms.Ma bingung ia menatap wanita disebelahnya yang terus-terusan tersenyum dan wanita itu pun berkata, “Sungguh menakjubkan bukan ?”



Di luar det.Han menemui dua orang dari perusahaan Highness tadi. Mereka mengonfirmasikan jika wanita itu benarlah Penulis Ma Ji Won.

“Tapi dia benar – benar bu Ma, dia bahkan tahu baru – baru ini pak Kim punya seorang anak”, jelas si wanita.

Det.Cheon datang menambahkan informasi jika perusahaan penerbit Highness memang ada sehingga pernyataan dua orang di depan mereka bisa dipercaya.



Det.Han tidak bisa percaya begitu saja ia berlari menghampiri Ms Ma yang baru keluar.

“Apa yang kau lakukan Ajusshi ?!”, teriak wanita penyelamat itu.

“Kau mungkin menipu orang lain tapi bukan aku”, jawab det.Han sambil mencengkram lengan Ms.Ma




“Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi kamu tidak tampak seperti orang dengan mata tajam”, jawab Ms Ma terdengar mengejek

Det.Cheon datang melerai membuat Ms Ma akhirnya bisa pergi dengan tenang. Polisi Jo tengah berpatroli, tanpa sengaja ia melihat det Han dan langsung memanggil namanya. Ternyata sedari tadi Lee Jung Hee ada di belakang menyimak segala yang terjadi.



Heo Joo Young dari kelas belajar yang tadi mengiriminya pesan menyapa Jung Hee dengan menggunakan bahasa Jepang.
“Apakah terjadi sesuatu disini ?”

“Aku tidak begitu yakin. Omong – omong bahasa Jepangmu telah menungkat drastis”, ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.

“Itu semua karena kebaikan anda”




Tiga ajumma dan wanita yang menyelamatkan Ms.Ma berkumpul di Perpustakaan. Ny.Hong merasa takjub karena ada orang yang berwajah sama dengan Ms.Ma. Do Hwan ikut bergabung.
“Mereka mungkin doppelganger..”

“Orang bilang ada satu orang di dunia yang mirip persis dengan kita..”

“Kurasa si napi kabur itu adalah doppelganger bu Ma.."



“Tapi berhati – hatilah. Konon jika menemui doppelganger-mu, salah satu dari kalian akan mati”, jelasnya sambil menggerakkan tangan mengiris di depan leher.


“Bagaimanapun juga bu Ma kamu harus...”,  Do Hwan memotong penjelasan dan mencoba  mengulurkan tangan, memperkenalkan diri pada wanita di sampingnya, “Kenalkan namaku Bae Do Hwan”

“Aku Seo Eun Ji”, jawab gadis muda itu sambil menjabat tangan sang lawan bicara.




Do Hwan atas nama kepolisian meminta maaf pada Ms.Ma namun malah diejek Ny.Hong, “Kamu jauh – jauh kemari hanya untuk mengatakan itu, kamu bekerja sangat keras hari ini”
Eun Ji membela dan mengatakan jika polisi pekerja keras sangat seksi dimatanya, "Ngomong – ngomong usiamu berapa ?”

“Aku ? Umurku 28 tahun”, jawab Do Hwan terdengar malu - malu.

Eun Ji menyuruh Do Hwan berbicara santai karena usia mereka sama.


Ms,Ma mengajak Eun Ji pulang karena harus membahas suatu hal bersama. Seo Eun Ji merengek masih ingin tetap berada disana.


Di depan kantor polisi, Polisi Jo memarahi det.Han karena sudah menimbulkan keributan padahal ia sedang dalam masa skorsing. Det.Cheon yang menemaninya menunduk meminta maaf.


“Dia memang terlihat seperti orang yang berbeda. Dia tidak seperti napi yang kita lihat di RS tahun lalu”, lanjut det.Cheon sepeninggalan Polisi Jo


Det.Han dengan sangat yakin mengatakan  jika itu adalah Ms.Ma. det.Cheon menyudahi pembicaraan, ia meminta det.Han menemui Ketua karena masa penangguhannya akan segera berakhir. 




Ms.Ma mengunci pintu sementara Eun Ji sibuk menjelajahi ruangan dan berkata jika rumah ini mirip rumah hantu.
“Kulkas dan microwave? Hanya itu ?”

“Bibi bahkan tidak punya TV”

“Apa ini ? Bibi bahkan tidak memasak nasi ?”

“Kita lihat dimana kamar bibi”

“Apa ini kamar bibi ? Astaga setidaknya bibi punya tempat tidur”

“Kenapa rumah ini sepi sekali. Itu ruangan apa ?”, omelnya tiada henti

Ms Ma yang sedari tadi diam mendengarkan langsung menarik Eun Ji ketika dia akan memasuki ruang rahasia penuh segudang informasi yang telah lama Ms Ma kumpulkan.


Eun Ji meminta Ms Ma melepaskan kacamatanya. “Kenapa aku bibimu ?”, tanya Ms Ma

“Lalu harus kupanggil apa..?”

“Pembunuh..”

“Atau si napi kabur ?”



Ms Ma marah dan meminta Eun Ji menjelaskan maksud kedatangannya.
“Aku mencari orang yang sama denganmu, orang yang membunuh anakmu”, jawabnya penuh amarah.


Polisi Jo nampaknya juga masih meragukan kemiripan Ms Ma, ia berencana akan melakukan tes sidik jari.
“Kita tidak bisa memindai sidik jari. Dia tidak melakukan kesalahan”, jawab Do Hwan yang asyik melihati foto Eun Ji

“Melihat kamu masih disini padahal seharusnya sudah pulang, kurasa kamu akhirnya menemukan arti hidup”, balas polisi Jo sambil melangkah menuju meja kerjanya.



Setiba tempat tujuan, seketika raut wajah Polisi Jo berubah menegang setelah membaca surat anonimus yang tergeletak di meja. Do Hwan berkata jika surat itu sudah ada di sana sejak tadi. 


Ms Ma menarik, mengusir Eun Ji yang masih memohon agar diijinkan ikut menangkap pelaku pembunuhan Min Seo. Ms Ma menyuruhnya pergi dan mencari pelakunya sendiri.


Eun Ji mengancam akan menghubungi det.Han, “Aku akan memberitahunya jika kamu wanita yang dia cari”


“Aku akan bilang jika kamu bukan bibiku”


“Baik, kamu benar-benar bukan keponakanku. Silahkan hubungi dia jika kamu siap untuk menjelaskan itu.”, ancam Ms Ma balik.

Eun Ji menghela nafas sebal, akhirnya dengan terpaksa ia menyeret koper meninggalkan kediaman Ms Ma.


Dari sela jendela Ms Ma memastikan jika Eun Ji sudah tidak ada di depan. Tiba – tiba suara Min Seo kembali terdengar.



“Apa nama bunga itu ?”

“Aku sudah pernah melihat bunga ini”, oceh Min Seo yang tak berhasil mengingat

“Itu bunga krisan kecil”, jawab sang ibu menghampiri

“Itu bunga kesukaanmu”

“Ibu bahkan membawa bunga ke rumah makam beberapa hari lalu”, Ms Ma sadar ia kelepasan bicara.




Kata rumah makam membuat Min Seo sedih. Min Seo menatap bunga krisan di atas meja dan Ms Ma yang mulai menangis secara bergantian. Bayangan Min Seo pun akhirnya lenyap.




Esoknya Ms Ma membeli buket bunga. Ny Hong menyapa sambil memuji jika bunga itu sangatlah cantik.
“Itu untuk rumahmu ?”

“Ya”

“Bu Ma, kita seharusnya lebih ramah satu sama lain”

“Bisakah aku bicara santai denganmu ?”, pinta Ny Hong

“Memang pernah tidak begitu”, balas Ms Ma sebal

“Ulang tahun kita tidak berjahuan. Tapi aku akan tetap menganggapmu lebih tua”, jawab Ny Hong yang kini sudah bisa bersikap ramah

“Baiklah”

“Lihat ? Kita sudah terdengar seperti teman”, ucap Ny Hong kegirangan sampai memukul Ms Ma yang hanya tersenyum melihat tingkahnya.



Ny Hong lanjut menanyakan apakah Ms Ma sudah mendapat permintaan maaf dari Ny Oh dan Ny Yang. Ms Ma menjawab belum. Ny Hong berkata jika ini mungkin karma karena mereka baru saja mendapat surat ancaman. Ms Ma tentu terkejut mendengar pemaparan temannya itu.


Orang yang digosipkan tengah berada di kantor polisi.

“Anakmu adalah hakim korup yang menerima suap sebelum mencapai putusan”, ucap Polisi Jo membaca surat yang diterima Ny Oh.


“Aku berniat merobek ini. Tapi sebaiknya, kubawa ini kemari !"

“Aku ingin kamu memindai surat ini untuk mendapatan sidik jari dan DNA pelaku. Temukan siapa pelakunya !”, perintahnya menggebu – gebu marah


Do Hwan yang ada di sana langsung memberitahu jika kemarin polisi Jo juga mendapat surat yang sama. Ia kemudian mengorek bak sampah dan kembali menyatukan potongan – potongan surat yang telah tersobek.
Polisi Jo berteriak berusaha mencegah namun terlambat. 


Dasar bedebah. Aku tahu kamu tidur dengan bu Moon



Ny Oh menatapnya jijik sementara Polisi Jo yang gugup berusaha mencari alasan, “Apakah putramu menerima suap ?.  Itu tidak benar bukan ?”

“Tentu saja tidak!”, jawab Ny Oh ikutan gugup.


Gosip memang cepat menyebar, tiga ajumma kini membicarakan kepala Jo dan bu Moon , tetapi Ny Hong memberikan penafsiran yang berbeda..


“Bu Moon adalah metafora untuk perpustakaan desa. Kita perlu berfokus kepada siapa yang dibicarakan dalam surat itu. Kurasa itu artinya Kepala Jo dan seseorang yang bekerja di perpustakaan desa berhubungan. Bukankah begitu ?”, tanya Ny Hong pada Ms Ma yang sedari tadi asyik merajut di depannya.


Ms Ma menjawab tenang, “Surat itu mungkin salah”


“Aku mendapat surat yang mengatakan suamiku berselingkuh. Artinya asurat itu benar”,  tegas Ny Hong



Ny Hong menanyakan apa mereka sudah mendapatkan surat ancaman juga. Ms Ma menjawab bohong, sementara Ny Park jujur mengatakan belum mendapatkan surat yang meresahkan itu, “tapi aku agak penasaran tentang jenis surat apa yang akan kudapatkan”, imbuhnya. 


Ketiga ajumma itu akhirnya pulang setelah diusir kasar Ny Oh yang berencana mengadakan rapat di Perpustakaan.


Ny Park berjalan bersama Ms Ma, “Aku ingin mencium pipi siapapun yang mengirim semua surat itu. Siapa pun itu orang itu membuatku puas. Itu tidak bisa dipercaya. Siapa pelakunya yah ?”

“Aku lebih penasaran alasannya mengirim surat – surat itu. Maksudku surat – suratnya sangat mencolok”, jawab Ms Ma sambil menenteng buket bunga.


“Lalu bagaimana kalau kita mulai mencari pelakunya ?”
Ms Ma tertawa menanggapi candaan Ny Park. 



Seorang wanita menabrak bahu Ny Park karena berjalan tergesa - gesa tanpa memperhatikan sekitar karena berusaha menutupi tangisnya. Joo Young yang berjalan di belakang terus memanggil nama wanita itu, “Mi Hyun-ssi”


Joo Young meraih tangan Mi Hyun tapi malah ditangkis, “Lepaskan aku. Teganya kamu melakukan itu”, marahnya

“Kamu salah paham sayang”

“Sudahlah jangan bicara kepadaku!”

Joo Young terus mengejar, berusaha menjelaskan namun tetap diabaikan.


“Itu pertengkaran kekasih. Masa-masa itu yang terbaik”, jelas Ny Park terdengar sudah berpengalaman.




Beberapa saat kemudian Jung Hee muncul menghampiri Joo Young yang sedang mendapat masalah. Ny Park dan Ms Ma masih sibuk memperhatikan.


Ms Ma kembali membaca surat misterius, tak sengaja ia melihat tempelan kata yang terlepas. Ms Ma mencabut potongan kertas kecil itu dan mendapati tulisan ‘Pat Jwi’ di baliknya.


Perhatiannya teralihkan oleh bunyi bel. Ms Ma kedatangan tamu seorang anak laki – laki yang menenteng sebuah tas.
“Kamu siapa ?”

“Anda menemukan tas ini tanpa tahu siapa pemiliknya ?”, balas anak itu sambil menunjukkan tasnya.

“Kamu pasti Woo Joon ya?”

“Anda tahu aku harus les privat karena anda bukan ?”, protesnya




Woo Joon menyerahkan tas kuningnya dan langsung menarik menggenggam tangan Ms Ma. Ms Ma terkejut sekaligus tersentuh melihat tangannya yang kini bertautan rapat dengan tangan Woo Joon.


Woo Joon ternyata meminta Ms Ma mengantarkannya ke rumah Mal Goo, “Bisakah anda memperkenalkanku dengan pria yang tinggal di sini ?”

“Kenapa ?”

“Itu bukan urusan anda”


“Apakah kamu tahu pria macam apa yang tinggal disini”


“Gangster”

Ms Ma kaget mendengar jawaban itu karena Woo Joon sudah mengetahui namun tetap ingin menemui. Woo Joon protes karena orang dewasa selalu mencercanya dengan berbagai pertanyaan . Tak berpikir panjang lagi ia langsung memencet bel rumah.



Mal Goo keluar menanyakan ada kepentingan apa. Woo Joon awalnya ketakutan sambil menggenggam erat tangan Ms Ma namun akhirnya ia melepaskan genggaman itu dan  meminta Ms Ma pergi karena ia ingin berbicara pribadi dengan Mal Goo. (wkwkwk)


Ms Ma meletakkan tas Woo Joon di bangku taman. Ia memandangi kedua telapak tangannya, kembali teringat hangatnya genggaman tangan Woo Joon.

Bersambung..


EmoticonEmoticon