Jumat, Maret 22, 2019

Sky Castle Episode 2 Part 2

Flashback End

Lamunan Seung Hye pecah setelah mendengar suara Tuan Cha yang menyuruhnya untuk membuang arca ibu dan anak itu. Tuan Cha berjalan mendekati sang istri, dia berkata jika menyimpan barang dari orang yang sudah mati akan membawa sial. Seung Hye menurut.


Tuan Cha menggunjingkan Myung Joo.

“Dia memang yang paling keras kepala..”

“..Hanya karena dia sudah, bukan berarti ini sudah berakhir..”

“..Tidak mungkin Young Jae akan sukses jika ibunya sudah tiada..”

“..Jalan kesuksesannya kini sudah berakhir !”


Seung Hye tak menanggapi, dia memeluk erat – erat benda pemberian Myung Joo.


Tuan Kang tiba – tiba berucap menuduh Suh Jin yang sudah tahu semua masalah ini.

“Apa ?”

“Soal Young Jae dan ibunya !”

Suh Jin tentu tak mengerti, dia menanyakan maksud ucapan Tuan Kang.

“Hubungan mereka baik – baik saja ?..”

“..Kamu pasti tahu sesuatu karena selalu bersama dengannya !”


“Young Jae selalu mendapatkan nilai bagus, sopan, dan dia juga baik..”

“..Dia juga tipe anak yang selalu percaya perkataan ibunya..”

“..Jadi, apa yang terjadi di antara mereka ?”


Tuan Kang menghela nafas, dia kini yakin jika Suh Jin memang tidak tahu apa – apa. Suh Jin curiga, dia memegangi lengan Tuan Kang, “Apa kamu mendengar sesuatu ?..”

“..Apa mereka punya masalah ?”

Tuan Kang tak mau jawab, dia menyuruh Suh Jin melupakan masalah ini, tidak perlu ikut campur.


Tuan Kang beranjak. Pikiran Suh Jin makin dipenuhi banyak pertanyaan.


Esoknya, Pelatin Kim didampingi Pak Jo mendatangi kediaman keluarga Kang. Pelatih  Kim menyerahkan berkas pada Suh Jin, “Ini adalah profil para gurunya..”

“..Sudah kutambah sertifikat kelulusan, sertifikat karier, dan salinan kartu identitas mereka”


Suh Jin membacai berkas itu, Yeh Suh ikut – ikutan. Dia terperangah karena mengenali foto - foto di dokumen profil, “Guru ini guru terbaik di Daechi-dong, eomma”


“Semua guru yang bertanggung jawab atas nilai sekolahnya..”

“..Adalah alumni SMA Shinhwa atau pernah bekerja di sana”


Yeh Suh berbisik kegirangan, “Apa aku bisa dapat peringkat terbaik selama tiga tahun ?”

Suh Jin tersenyum, dia menepuk kaki Yeh Suh, “Mungkin saja selama tidak ada kesalahan”

Suh Jin kemudian menanyakan tempat kegiatan belajar putrinya.


“Dikantorku atau di rumah guru..”

“..Tentu saja, pak Jo akan datang untuk menjemput Yeh Suh..”

“..Anda harus memastikan kesehatannya”

Suh Jin mengangguk. 


Pak Jo menyerahkan lembaran berisi daftar hidangan yang baik untuk murid SMA. Suh Jin terkesima karena Pelatih Kim menyiapkan informasi seperti ini, dia lalu berterima kasih. Pelatih Kim berujar, dia ingin  melihat kamar Yeh Suh.


Pelatih Kim melakukan penilaian pada kamar Yeh Suh.

“Lokasi mejanya bagus. Dia membelakangi pintunya..”

“..Penempatan meja utama dan lampu meja juga sudah baik karena menghadap ke utara..”

“..Jadi, tidak terlalu banyak sinar matahari..”

“..Dengan begitu, dia akan konsentrasi dengan lebih baik saat belajar”


Pelatih Kim lanjut membuka pintu ruang kecil di dalam kamar, “Yeh Suh, kamu sering belajar di sini ?”

Yeh Suh mengangguk. Dia belajar di situ saat tidak fokus belajar di luar karena ruang itu seperti ruang belajar pribadi.


Pelatih Kim menyukai pemikiran Yeh Suh, dia kemudian menyuruh Han Suh Jin untuk menempatkan meja sekolah di dalam ruangan ini, “Dia harus belajar dengan lingkungan yang sama seperti saat sedang ujian..”

“..Dan tolong pasang penghitung waktu di dinding yang mudah terlihat..”

“..Dia harus mengecek berapa lamanya menjawab pertanyaan..”

“..Pertahankan kelembapan udara ini antara 20 hingga 23 derajat celcius”


Suh Jin mengangguk. Pelatih Kim juga berpesan agar Suh Jin mengganti lampu meja belajar ini, “Saat dia mempelajari matematika dan sains..”

“..Dia harus belajar dengan lampu biru sekitar 8.000 Kelvin”


Suara pelatih Kim terdengar mengiringi pembenahan kekurangan di kamar Yeh Suh.

“Saat harus melafal, gunakan cahaya putih sekitar 4.000 Kelvin..”

“..Dan untuk pelajaran kreatif seperti musik dan seni..”

“..Dia harus belajar dengan lampu merah 2.200 Kelvin..”

“..Dengan begitu kemampuan belajarnya akan meningkat”


“Anda harus membuang kaca meja itu sekarang juga..”

“..Suhu kaca yang dingin akan membuat suhu tubuhnya rendah..”

“..Dia harus mengeluarkan energi untuk meningkatkan suhu tubuhnya”


“Buang semua yang tidak perlu di dinding dan gantung satu lukisan Mondrian..”

“..Lukisan itu akan meningkatkan konsentrasinya..”

“..Dan juga akan membantu otaknya untuk berlatih”


Urusan di kamar Yeh Suh selesai. Suh Jin dan Pelatih Kim meneruskan obrolan di restourant.

Suh Jin mengungkapkan rasa tenangnya karena Pelatih Kim mau menerimanya.

Suh Jin mengajak bersulang, dia berterima kasih.


Pelatih Kim berkata dia akan menemui Suh Jin sekali dalam sepekan untuk memberikan laporan semua perkembangan Yeh Suh.


Suh Jin mencoba menanyakan masalah Young Jae. Suh Jin bertanya takut – takut, “Apa dulu ibu Young Jae...”

“..Apa kamu sudah dengar yang terjadi pada ibu Young Jae ?”


“Hubunganku dengan klien berakhir begitu mereka diterima..”

“..Begitu pula dengan Yeh Suh nantinya”

Suh Jin tidak mendesak, dia mempersilahkan Pelatih Kim meneruskan makannya.


Pelatih Kim hendak memotong steik tapi getaran ponsel menghentikannya. Pelatih Kim menilik layar, kontak dengan nama ‘Park Young Jae’ menghubunginya. Pelatih Kim tanpa ragu langsung menolak panggilan itu.

Pelatih Kim bertanya apa Suh Jin sudah menghubungi ibu Woo Joo.


“Aku sudah telepon bahkan meninggalkan pesan..”

“..Tapi dia masih belum menjawabku”

“Ibu murid terbaik menelpon, tapi tidak dijawab ?”


Suh Jin berpikir Sue Lim lebih ketat dengan pendidikan anaknya, “Aku merasa dia tidak butuh untuk berbagi informasi..”

“..Aku sangat ingin tahu dia itu orang seperti apa”


Tuan Woo menghampiri Tuan Kang yang tengah dikerubungi para juniornya, “Aku ada kabar penting ! Kabar yang sangat penting !!!”

Tuan Kang bertanya ketus, “Kami tahu kamu itu besar mulut. Ada apa lagi sekarang ?”

“Presdir Choi sedang mencari pengganti Prof Park !”


Kang Joon Sang kaget, “Apa ? Kukira kita akan perekrutan terbuka”

“Aku kira juga begitu. Yang terpenting, calonnya adalah..”

“..Profesor purnawaktu dan nantinya akan tinggal di Sky Castle !”

Tuan Kang mendengus, “Siapa orangnya ? Apa dia lulusan Universitas Johns Hopkins ?”


Tuan Woo berbisik, “Dia lulusan kampus kedokteran Universitas Boojin”

Tuan Kang merasa asing dengan kampus itu, dia bertanya pada tiga juniornya apa mereka pernah mendengar kampus itu. Juniornya tidak ada yang tahu.


Tuan Woo memberitahu jika itu kampus kedokteran di pinggiran kota, “Yang lebih mengejutkan lagi..”

“..Dia tidak memiliki koneksi dengan Presdir Choi atau semacamnya..”

“..Dia tidak punya bantuan koneksi”

Tuan Kang mengumpat kesal, kenapa juga presdir merekrut orang seperti dia.


Esoknya, tiga ajumma berkumpul di Perpustakaan. Jin Hee ngomel karena Presdir  Choi mempekerjakan dokter baru hanya karena dia menyukainya, “Ini aneh ! Ada banyak profesor yang sangat ingin tinggal di Sky Castle..”

“..Kenapa dia menyukai lulusan kampus pinggiran kota ?”


Seung Hye menanggapi bijak sekaligus menyindir. Lulusan dari mana itu tidak penting, yang penting dokter itu harus bisa merawat pasiennya, tanggung jawab, dan memiliki kemampuan bedah yang baik.


Jin Hee dan Suh Jin saling melempar kode. Mereka tidak suka dengan komentar Seung Hye.


Sementara Seung Hye dengan tenang meneruskan ucapannya, “Belakangan ini, keuntungan dianggap lebih penting daripada nyawa.......”

Mendadak Seung Hye mengalihkan topik, “Omo... Cangkir teh ini berusia 260 tahun, bukan ?”


“Suh Jin memang tergila – gila dengan barang mahal seperti aku !”, sahut Jin Hee.


Suh Jin bertutur sok malu – malu sambil melirik Seung Hye, “Tergila – gila apanya ?..”

“..Cangkir teh ini milik ibuku yang diwariskan padaku”

Jin Hee memuji selera ibu Suh Jin memang luar biasa, “Menurut ibuku barang Tiongkok dianggap bagus jika tidak pecah”


“Aku ingin bertemu dengan ibumu kapan - kapan. Apa ibumu ada rencana untuk ke Korea ?”, tanya Seung Hye sok akrab.

“Mungkin saja, jika oppaku ingin pulang. Ibuku terlalu menyayangi putranya”

“Apa kakakmu juga tinggal di Sidney ?”


Seung Hye berganti menjawabkan. Dia bilang kakak Suh Jin seorang dokter gigi, “Kecerdasan Yeh Suh bukan hanya menurun dari ayahnya..”

“..Kakeknya pernah menjadi presdir bank hipotek di Sidney..”

“..Pamannya seorang dokter gigi, dan ibunya Pascasarjana Pendidikan di Universitas Sidney..”

“..Benar – benar gen egois”


Suh Jin tak mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya tersenyum sebelum akhirnya menyeduh minuman. Seung Hye memutuskan menutup rapat – rapat mulutnya.


Tiga kendaraan berhenti di depan bekas tempat tinggal keluarga Park.. keluarga Hwang keluar dari mobil. Lee Sue Lim dan Hwang Woo Joo tercengang melihat kemegahan rumah dihadapannya.

“Wah luar biasa nak. Ini benar – benar masih di Korea ?..”

“..Kita bisa tinggal di rumah mewah berkat ayahmu”


Tiga ajumma masih berada di lantai atas Perpustakaan. Mereka kini sibuk membaca buku dengan judul yang sama. Jin Hee mengajak dua temannya bercanda. Suh Jin menegur, dia melarang Jin Hee berucap omong kosong karena mereka harus segera menulis laporan.


Jin Hee menaruh kasar bukunya lalu mengumpat, “Saat sekolah saja aku tidak seperti iniiiiiiiii“


Jin Hee bangkit, dia mengulat menatap keluar jendela untuk mengusir rasa jenuhnya.

Jin Hee kaget melihat kendaraan memadati halaman depan rumah Myung Joo. Dia memanggil teman – temannya, “Hya, mereka baru pindah ke rumah Young Jae !!”


Noh Seung Hye segera menutup buku ‘The Republic, Plato’. Dia menghampiri Jin Hee, “Dia dokter yang baru dipromosikan itu, bukan ?”

Jin Hee mengacuhkan Seung Hye, dia mengeluarkan pertanyaan dalam pikirannya, “Apa mereka tahu pernah ada yang mati di rumah itu ?”


Suh Jin akhirnya ikut menyudahi sesi bacanya. Dia mendekati Jin Hee, “Itu bukan topik yang bagus. Jangan pernah membahasnya !”

“Aku tidak akan mau rumah itu meski gratis !”

Suh Jin menyuruh Jin Hee berhenti bicara. Jin Hee seketika menurut dia berjanji tidak akan mengungkap rahasia kematian Myung Joo di hadapan keluarga itu.


Jin Hee heran melihat banyaknya tanaman yang diangkati pegawai jasa layanan pindah rumah ke dalam kediaman Hwang, “Astaga. Mereka punya toko bunga ?..”

“..Kenapa mereka punya banyak tanaman ?”


Tuan Hwang menyodorkan kopi untuk istrinya tak terlihat kelelahan. Tuan Hwang membersihkan kotorkan di wajah Sue Lim, “Kamu terlalu bekerja keras”

Sue Lim tersenyum, dia kemudian mencium Tuan Hwang.


Sue Lim dan Tuan Hwang naik ke lantai atas. Keluarga itu saling bekerja sama menatai pot tanaman maupun barang – barang agar enak dipandang. Woo Joo kemudian menyerahkan tablet yang tadi dia temukan bersandar di dinding, “Pasti ini milik pemilik sebelumnya”


Sue Lim turun, dia meletakkan begitu saja tablet itu dimeja karena  pekerjaan beres – beresnya belum selesai.


EmoticonEmoticon