Senin, Maret 25, 2019

Sky Castle Episode 3 Part 2


Yang Woo yang sudah mengenakan jas dokter masuk ke ruangan Joon Sang. Dia menginformasikan kabar bagus tadi, “Chan Mi dari AOA datang ke RS kita untuk operasi punggung”

Joon Sang malah bertanya AOA itu apa. Yang Woo penuh semangat menunjukkan tarian bingle bangle.




Joon Sang tetap tidak paham. Dia memilih duduk untuk menikmati kopinya. Yang Woo mendekat, “Kamu tidak tahu ? Ini sangat populer”

“Kamu seorang profesor. Tidak bisakah kamu tetap berwibawa siapa pun pasiennya ?”


Yang Woo ikutan duduk, dia berusaha membela diri, “Bukan begitu. Masalahnya, perwakilan agensinya adalah putranya sahabat presdir”

Joon Sang menanggapi sinis, “Apa hubungannya ? Semua pasien itu sama”

“Jangan begitu. Kedua pria tua itu bersahabat hingga kudengar dia mengagumminya seperti putranya sendiri”

Joon Sang meletakkan kopinya, “Lantas apa ?”


“Kalau kamu mengoperasi dengan baik siapa tahu ? Kita bisa menyenangkan hati Presdir Choi,,”

“..Dan membuat dia menyukai departemen kita”

Joon Sang tersenyum getir, “Membuat dia menyukai kita ? Mimpi ! Memangnya kita dayang – dayangnya ?” :D

“Bukan begitu maksudku”


Obrolan mereka terhenti karena bunyi telepon. Joon Sang mengangkatnya.

“Ya, dengan Kang Joon Sang..”

“..Aaa.. Sekarang ? Tentu, aku akan ke sana”


Panggilan berakhir. Yang Woo menghampiri Joon Sang. Dia menebak jika telepon barusan dari sekertaris Presdir.

Senyum Joon Sang tiba – tiba mengembang. Joon Sang bergumam, “Siapa perempuan ini sampai aku dipanggil ?”


“Aku bertaruh Presdir Choi ingin menanyaimu sendiri..”

“..Kamu spesialis tulang belakang terbaik di rumah sakit kita. Dia setidaknya harus menghargaimu sebesar ini..”

“..Agar kamu bisa menunjukkan kemampuanmu dengan senang hati.....”

Joon Sang meninggalkan Yang Woo padahal temannya itu belum selesai bicara.


Presdir Choi sedang berbincang dengan manager Chan Mi. Dia melarang manager mengkhawatirkan masalah operasi.

Suara ketukan pintu terdengar. Presdir mempersilahkan orang di balik pintu masuk.


Joon Sang menampakkan diri. Presdir Choi bertanya memastikan apa Joon Sang ada jadwal operasi untuk Senin pagi pekan depan.

Joon Sang membenarkan, tepatnya mulai pukul 10.00.


Presdir Choi mengecek catatan di tabletnya, “Sebentar. Coba kulihat. Ruang Operasi 10, 11, dan 12 ? Kamu mengoperasi tiga sekaligus ?”

“Tidak, aku memesan Ruang Operasi 12 untuk berjaga - jaga”


Presdir tertawa, “Kenapa kamu sangat tamak jika menyangkut operasi ?..”

“..Salahmu jika kita kekurangan ruang operasi”

Joon Sang berkata jika kedua operasi itu sederhana, jadi, jika dilakukan di Ruang Operasi 12 pasti akan bisa dilakukan.


Pintu kembali terketuk, kali ini Chi Young yang masuk. Presdir langsung menyuruh Chi Young duduk. Chi Young menurut.

Presdir Choi memberitahu jika Joon Sang bilang dia telah memesan ruang 12 untuk berjaga – jaga, “Jadi jangan khawatir dan uruslah operasinya hari Senin pagi”


Manager menjabat tangan Chi Young, “Tolong rawat dia dengan baik”

“Ya, tentu saja”


Presdir melirik Joon Sang yang masih berdiri mematung di ruangannya, “Kamu masih disitu ? Kembalilah bekerja. Kamu pasti sibuk. Pergilah”, tutur Presdir Choi dengan gerakan tangan seolah mengusir.


Joon Sang pun keluar, tapi dia tak benar – benar menyingkir. Joon Sang mengintip pertemuan tiga orang itu dari cela pintu.

Joon Sang jengkel mendengar sekaligus melihat Presdir yang membanggakan Chi Young, “Akan lebih baik daripada operasi ortopedi, di mana ahli bedah memakai kaca pembesar..”

“..Dan menyekup tulang. Profesor Hwang akan menggunakan mikroskop..”

“..Untuk memperkecil kemungkinan kerusakan saraf. Aa.. Makalah Prof Hwang sangat diakui secara Internasional..”

“..Dan caranya mengoperasi itu bagaikan seni”


Joon Sang menyudahi aksinya. Ternyata sedari tadi ada tiga orang yang memperhatikan gelagatnya. Joon Sang menatap orang – orang itu. Mereka sontak gelagapan.

“Di mana laporan yang disetujui pagi tadi ?”, tanya si pria berkacamata yang berusaha menyembunyikan kegugupan. (mungkin pria berkacamata itu sekertarisnya presdir)

“Itu, ya......”

“Di sini !!”


Joon Sang tak menanggapi orang – orang itu lebih lanjut. Dia berjalan dengan langkah lemas.

Sepeninggalan Joon Sang. Tiga orang itu berkrusak – krusuk bertanya – tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Yang Woo dan tiga juniornya asik menarikan bingle bangle karena mengira mereka akan mengoperasi Chan Mi. Tiba – tiba Yang Woo berhenti menggerakkan tubuh karena punggungnya mendadak sakit.


Junior A memperingati teman – temannya jika dia yang akan mengambil formulir persetujuan operasi untuk Chan Mi.

Yang Woo menegur, “Hya berandal.. Itu tugasnya staf tahun pertama..”

“..Kamu akan membawakan formulir persetujuan di tahun keempatmu ? Astagaaa, kamu kurang ajar !”


Yang Woo sekilas melihat Chan Mi di layar ponsel sebelum akhirnya berkata, “Haruskah kubawakan kepadanya ?”

Junior A terpaksa tertawa dan berujar jika itu akan menjadi kehormatan untuk Chan Mi.


Yang Woo kegirangan. hingga dia memiliki kekuatan untuk kembali menari.


Joon Sang yang suasana hatinya kacau muncul merusak kesenangan mereka, “Apa yang kalian lakukan ?! Bukankan kalian harus bekerja !!!?”, bentaknya.

Junior – junior lantas segera mematikan video tarian di ponselnya lalu berlari meninggalkan ruangan. Yang Woo menyusul mereka.


Sue Lim sibuk menyusun buku anak. Salah satu buku itu berjudul, ‘Rasmus dan si Sundal’


Sue Lim mengambil satu buku lagi untuk ditata di rak. Tapi dia tiba – tiba berhenti bekerja. Sue Lim tersenyum sabil mengusap buku berjudul ‘Taman Pohon Kenari’ yang barusan dia ambil, Sue Lim memandang buku itu cukup lama hingga bunyi bel menghentikan ketermenungannya.


Sue Lim membuka pintu. Dia melihat Seung Hye. Sue Lim menanyakan alasan Seung Hye datang kemari.

Seung Hye menunjukkan keranjang pikniknya, “Mau piknik ? Aku membuatkan roti lapis”

Sue Lim menyukai ide.


Sue Lim dan Seung Hye sudah duduk bersisian di taman.

“Bagus sekali di sini. Taman indah ini tepat di depan rumahku”

“Pemandangannya memang menakjubkan. Penghuni di sini adalah masalahnya”, sahut Seung Hye penuh keanggunan. (:D Seung Hye ajumma kaloo ngomong lemuuuuut tapi nusukkkkk)


Sue Lim meminta Seung Hye menceritakan orang yang pernah tinggal di rumahnya, itu pun kalau Seung Hye tidak keberatan.

Pertanyaan itu sukses membuat Seung Hye yang tengah mengunyahi tomat ceri tersedak.

“Apa persisnya yang terjadi pada mereka ?”, lanjut Sue Lim.


Seung Hye tanpa pikir panjang langsung berkisah, “Kurasa hidup tidak jauh berbeda dengan semua orang. Tiap wanita di Sky Castle..”

“..Iri kepada Myung Joo yang pernah tinggal di rumah itu. Suaminya sangat sukses..”

“..Dia pernah menjadi calon presdir RS Univ Joonam berikutnya. Putranya masuk ke Sekolah Medis UNS..”

“..Maka dia pergi berlayar untuk menghargai kerja kerasnya”


“Lantas kenapa dia.......”

“Siapa yang tahu, aku tidak yakin kenapa Myung Joo memutuskan begitu..”

“..Tapi malam itu, kebetulan kulihat dia dan suaminya bertengkar. Itu benar – benar mengejutkan..”

“..Kurasa mereka dikenal sebagai pasangan yang mesra. Aku bodoh. Baru saat itu kusadari..”

“..Apa yang kita lihat tidak selalu benar. Semua wanita di Sky Castle... Maksudku..”

“..Bahkan aku pun tidak berbeda”


Seung Hye mengimbuhkan jika semua orang berusaha keras hanya menunjukkan sisi yang baik. Semua ibu di sini berpura – pura tidak ekstra berusaha, tapi mereka semua ahli dalam pendidikan privat, “Kini, kamu mungkin tahu telah terlibat dalam situasi apa”

Sue Lim menghela nafas, “Mereka semua pasti membenci aku”


Seung Hye bahkan berani bertaruh jika Yeh Suh eomma mencari kesempatan untuk membuat Sue Lim jera, “Yeh Suh dan Woo Joo menjadi nomor satu. Hampir lupa..”

“..Mengenai Woo Joo.... Apa rahasianya untuk mendapatkan nilai – nilai sebaik itu ?”


Sue Lim menatap Seung Hye dalam diam. Seung Hye merapikan rambutnya. Seung Hye beralasan jika dia hanya penasaran pada apa yang Sue Lim lakukan hingga bisa membuat Woo Joo mendapat nilai bagus tanpa pendidikan privat, “Jika aku bisa menghilangkan pendidikan privat sama sekali..”

“..Aku ingin seklai tidak usah mencemaskannya !!”, ujar Seung Hye penuh kejujuran.


Sue Lim tersenyum, “Aku tidak melakukan apa pun yang khusus. Aku hanya berusaha memahami kehendak Woo Joo..”

“..Dan berusaha keras untuk berpikir dari sudut pandangnya”


Seung Hye seketika tertawa karena mengira Sue Lim bercanda, “Sue Lim, aku mulai sedikit tidak menyukaimu”

“Maafkan aku. Menjadi seorang ibu saja aku kewalahan”

Seung Hye bertanya apa Sue Lim bekerja karena menurutnya dia tidak mirip ibu rumah tangga.


“Aku tidak punya pekerjaan tetap, tapi aku menulis buku anak – anak..”

“..Tapi aku belum menerbitkan buku dalam 10 tahun”

Seung Hye kaget, “Omoo.. kamu seorang pengarang ? Itu bagus.. Kamu pasti suka membaca..”

“..Kamu ingin bergabung dengan klub buku kami ?”


“Klub buku ?”


Seung Hye dan Sue Lim berpindah tempat. Entah di mana, mungkin di Perpustakaan. Suh Jin menunjukkan situs web Omphalos.

Sue Lim terkesima karena zaman sekarang, tiap orang selalu memakai ponsel bahkan di rumah. Menyenagkan jika membaca bersama dan berdiskusi mengenai buku.


Sue Jin kemudian lanjut melihati daftar buku yang sudah dibaca anak – anak Sky Castle. Sue Jin berucap menyebutkan beberapa judul buku – buku itu, “Psikologi Orang Banyak, Semangat Hukum, Sang Pangeran, Gen Egois, dan ‘Republik’ oleh Plato ?”


Sue Lim terhenyak, “Omo.. anak – anak telah membaca buku – buku ini ?”

Seung Hye mengangguk – angguk.

“Siapa yang menentukan bacaan ini ?”


“Suamiku. Dia mendirikan Omphalos dan memimpinnya hingga kini. Tapi alih – alih berdiskusi, saat ini seperti....”

Seung Hye sadar hampir keceplosan, dia segera meralat ucapannya, “Pokoknya ini bagus. Daftarlah untuk keanggotaan di situs webnya”


“Apa yang kamu baca bulan ini ?”


EmoticonEmoticon