Minggu, Maret 31, 2019

Sky Castle Episode 5 Part 1


Young Jae melangkah cepat melewati tangga darurat tepat saat Suh Jin baru keluar ruangan. Suh Jin menghapus air matanya. Dia tersenyum sambil menatap pintu ruangan Pelatih Kim.


Young Jae berjalan ke arah Suh Jin. Suh Jin terhenyak sesaat, dia kemudian memegangi tubuh Young Jae, “Young Jae yaa...”, panggilnya.


Young Jae acuh, dia menyingkirkan Suh Jin dari hadapannya. Young Jae terus berjalan memasuki ruang Pelatih Kim sementara Pelatih Jo berlarian menghampiri sambil memanggil – manggil nama anak itu.


Suh Jin membuntuti Young Jae, Young Jae mengunci pintu ruangan.

“Nona Kim, anda baik – baik saja ?”, ucap panik Pelatih Jo sembari menggedori pintu.


Young Jae mengeluarkan pisau bersiap menyerang, Suh Jin menghalangi niatannya, “Young Jae yaa, aku mengerti perasaaanmu. Sungguh”


Young Jae mencoba mencari cela tapi Suh Jin terus menghadang jalannya. Young Jae menatap tajam Pelatih Jo sambil berkata, “Minggir, Han ajumma. Aku ke sini untuk menghabisi wanita itu !”

“Young Jae yaa, ini tidak akan membuat ibumu kembali hidup”


Young Jae makin marah, “Justru itu ! Itu sebabnya dia dan aku harus mati ! Ibuku mati karena kamu !..”

“..Seandainya kamu tidak menghasutku untuk balas dendam !”


Young Jae hendak menaiki meja, Suh Jin memegangi tubuhnya, “Tidak Young Jae.. Kumohon...Jangan lakukan itu ! Pelatih Kim...”

“..Dia hanya berusaha memaksimalkan hasil belajarmu !”

Pelatih Kim membenarkan perkataan Suh Jin, dia hanya melakukan yang terbaik agar Young Jae lolos.


Young Jae tak habis pikir dengan jawaban barusan, dia menendang keranjang sampah. Young Jae membentak,  “Terbaik ? Kamu bilang itu terbaik ? Itu menurutmu. Tapi kamu yang terburuk bagiku dan ibuku !..”

“..Kamu tahu ini akan terjadi, tapi kamu diam saja !”


Pelatih Kim menimpali dengan pembawaan tenang, “Begitukah menurutmu ? Tidak ada satu guru pun di dunia ini yang akan duduk diam jika mereka tahu”

“Jangan bohong ! Aku tahu kamu merasa bersalah sehingga tidak menjawab teleponku !”


Pelatih Kim menegaskan, dia tak menjawab karena itu peraturannya, “Kamu tahu itu...Aku memutuskan hubungan dengan murid – muridku begitu mereka diterima”

Young Jae membantingi berkas – berkas di meja, “Peraturan ? Meski ibuku mati ? Meski aku menjadi seperti ini ?”, teriaknya.


Pelatih Kim habis kesabaran, suaranya meninggi. Dia menyalahkan Young Jae yang seharusnya tidak meninggalkan ibunya.


Suh Jin membenarkan seharusnya Young Jae tidak pergi meski sangat membenci Myung Joo, “Seorang ibu bisa menjadi dingin demi kesuksesan anak – anaknya..”

“..Tapi sebenarnya mereka menangis dibelakang anak – anaknya. Bayangkan sedihnya dia saat harus bersikap seperti itu !..”

“..Dia pasti merasa hancur dan sia – sia karena sudah berbuat begitu. Myung Joo eonni sangat mencintaimu lebih daripada dirinya sendiri..”

“..Kamu tahu itu ?”


Young Jae menangis, Suh Jin memohon agar Young Jae tidak melakukan ini demi ibunya.

Young Jae menganggap Suh Jin berbohong, “Dia mati karena aku tidak kuliah. Dia mati karena aku tidak hidup sesuai keinginannya..”

“..Itu cinta ? Mana mungkin dia mati jika dia sangat mencintaiku ?”


Suh Jin marah, dia mengatai Young Jae bodoh karena tidak tahu alasan kematian sang ibu, “Kamu yang tidak ingin menemuinya lagi ! Kamu yang bilang ingin memutuskan hubunganmu dengannya !!!”


Sejenak suasana hening sebelum akhirnya Young Jae menunjuk Pelatih Kim dan kembali menyalahkannya atas kematian sang ibu. Young Jae sekali lagi menyuruh Suh Jin minggir. Suh Jin menggeleng.


Suh Jin kekeh menghalangi jalan, akhirnya pisau Young Jae mengenai lengannya. Suh Jin menggernyit kesakitan. Pelatih Kim khawatir, dia menanyakan keadaannya. Young Jae tertegun.


Young Jae melarikan diri saat Pelatih Jo berhasil membuka pintu dengan kunci duplikat milik penjaga. Pelatih Jo dan penjaga mengejarnya.


Pelatih Kim memakaikan mantelnya pada Suh Jin usai dokter menjahit luka wanita itu. Pelatih Kim mengungkapkan kelegaan karena lukanya tidak dalam.


“Aku senang kamu baik – baik saja. Bagaimana dengan Young Jae ? Mereka berhasil menangkapnya ?”

“Tidak, dia berhasil lolos”

“Bagaimana jika dia datang lagi ? Kamu tidak laporkan dia ke polisi ?”


Pelatih Kim tidak ingin melakukan itu, karena berpikir mungkin Young Jae ingin menyalahkan seseorang karena dia tidak bisa merasa bersalah sendirian, “Sebagai gurunya, aku berharap dia bisa melalui semua ini”

Suh Jin makin merasa bersalah, “Kamu begitu memedulikannya. Maafkan aku sudah salah paham kepadamu”

“Tidak, kini aku berutang budi padamu”


Suh Jin meraih tangan Pelatih Kim, “Pelatih Kim.. Kuharap Yeh Suh tidak harus mengalami apa yang Young Jae...”

Pelatih Kim menyela, dia membalas menggenggam tangan Suh Jin, “Bu Han, Yeh Suh dan Young Jae itu berbeda. Jangan cemas”


Suh Jin tersenyum lega, dia mengucap terima kasih. Pelatih Kim mengimbuhkan, dia berjanji akan berusaha yang terbaik untuk membimbing pelajarnya.

“Aku sangat mempercayaimu”, ucap Suh Jin membuat Pelatih Jo mengangguk sambil tersenyum.


Malam hari, Sue Lim membaca bersuara artikel di internet sembari mengingat aksi pencurian Yeh Bin dan kawanan, “Fakta bahwa mereka bersekongkol dan berencana untuk mencuri..”

“..Membuktikan bahwa mereka memang berniat melakukan kejahatan. Penahanan di tempat harus segera diterapkan..”

“..Pada saat mereka ketahuan untuk mencegah hal yang sama terjadi. Orang tua harus mencurahkan banyak rasa cinta dan....”


Sue Lim tiba – tiba berhenti membaca dia melepas kacamata lalu menghela nafas, “Pada akhirnnya, semua kembali kepada orang tua. Bagaimana ini ?”

Chi Young yang sedari tadi mendengarkan, menanggapi tenang karena saat masih kecil dia juga pernah mengutil.


Sue Lim menatap suaminya tak percaya, “Kamu ?”

“Saat aku baru masuk SMP. Saat itu sekitar dua tahun setelah orang tuaku meninggal..”

“..dan aku masuk ke panti asuhan yang dikelola orang tuamu. Aku sangat menginginkan sepatu sneaker..”

“..Aku memikirkan sepatu itu selama berhari – hari, lalu aku mencurinya dari temanku..”

“..Dan ibumu mengetahuinya, lalu dia membawaku menemui ibu temanku dan meminta maaf kepadanya karena tidak membesarkanku dengan baik..”

“..Dia memohon dengan sangat tulus. Setelah hari itu, aku bersumpah tidak akan mencuri lagi”


Sue Lim berkata jika peran orang tuanya sangat penting untuk membenahi karakter suaminya. Sue Lim ingin bicara dengan para ibu Sky Castle.

Chi Young keberatan karena takut ajumma – ajumma itu nantinya akan menyulitkan Sue Lim lagi, “Bagi mereka kamu penyebab klub buku itu ditiadakan”


Sue Lim menghela nafas, “Aku sangat merasa kasihan dengan anak – anak. Betapa stressnya mereka diwajibkan untuk ikut kegiatan itu ?”


Jin Hee mengemudi sambil mengomeli Soo Han dan Yeh Bin karena terlambat masuk kelas 10 menit padahal tempat kursus memberikan waktu makan malam selama 30 menit, “Kalian harus kembali ke kursi kalian 10 menit sebelum anak – anak lainnya. Kalian malah terlambat 10 menit..”

“..Berapa soal yang kalian selesaikan dalam 10 menit ?”


Soo Han hanya bisa menunduk diam, Jin Hee membentak anaknya, “Woo Soo Han. Apa yang tadi kamu lakukan ?”


Soo Han menatap Yeh Bin sebelum akhirnya berkata jika dia terlambat karena menunggu bu Lee.

Yeh Bin langsung menyenggol pundak Soo Han, dia menegur dengan suara lirih, “Hya.......”


“Bu Lee ? Siapa itu bu Lee ? Dia itu siapa, Yeh Bin ?”


Yeh Bin tak menjawab, dia kembali berbisik, “Jangan bohong !.Ajumma tidak datang. Dia sudah SMS aku bahwa dia tidak datang”

Jin Hee emosi, “Woo Soo Han. Kamu sengaja membuat ibu marah, ya ?”


Soo Han ketakutan, dia terpaksa meneruskan kebohongan, “Kami terlambat karena menunggu bibi penulis itu”

Yeh Bin kesal, dia menatap tajam Soo Han, “Mau mati, ya ? Jangan bohong”, ancamnya tetap dengan suara bisikan.


“Penulis ? Ibu Woo Joo ? Kenapa dia ?”


Tiba di Sky Castle, Yeh Bin dan Soo Han bergegas masuk rumah sementara Jin Hee mengaduh pada Suh Jin mengenai keterlambatan anak – anak yang disebabkan Sue Lim mengatur pertemuan saat makan malam untuk wawancara tapi dia tidak muncul, “Anak – anak terlambat 10 menit untuk masuk kelas karena menunggu dia”


Suh Jin kaget, “Dia mengatur pertemuan dengan anak – anak tanpa seizin kita ?”

“Itu dia !! Dia itu siapa beraninya menemui anak – anak kita dan dia bhakan tidak muncul !!..”

“..Apa dia itu benar – benar gila ?”


Suh Jin menyimpulkan kalau Sue Lim sudah meniadakan klub buku dan kini anak – anak menjadi sasarannya.

“Itulah yang membuatku kesal ! Kali ini aku tidak akan diam saja. Usir dia dari sini” :D


Jin Hee pergi hendak mengusir Sue Lim. Perkataan Suh Jin mencegahnya, “Tidak... Tidak... Saat ini kamu terlalu kalut. Dia yang akan diuntungkan dari situasi ini..”

“..Aku akan pastikan anak – anak tidak terlambat lagi. Serahkan saja kepadaku”


Jin Hee keberatan, “Seharusnya kamu serahkan wanita seperti itu kepadaku..”

“..Dia tidak akan pernah memahami wanita elegan sepertimu. Aku selalu merisak saat sekolah..” :D

“..Aku harus memberinya....”

Ucapan Jin Hee terhenti karena dia mendengar sapaan sang suami dari dalam taksi yang baru saja melintas. 


Sue Jin menyuruh Jin Hee pulang dan menyuruhnya menyerahkan Sue Lim padanya.

Jin Hee fokus melihat suami mabuknya turun dari taksi, “Si B*doh itu!!”, gerutunya.


Jin Hee kemudian menggerakkan kaki seolah menginjak Sue Lim, “Hancurkan perempuan itu Eonni agar dia tidak macam – macam lagi dengan anak – anak..”

“..Aigoo... Harus diapakan laki – laki itu ? Kenapa dia minum setiap hariiiii !!”, ujarnya sambil berjalan pulang.


Suh Jin menghela nafas melihat Jin Hee yang berlari kencang sebelum akhirnya dia masuk rumah.



EmoticonEmoticon