Sabtu, April 13, 2019

Sky Castle Episode 10 Part 2


Sue Lim kaget karena Suh Jin melalui sambungan telepon memintanya datang sekarang juga ke pertemuan.


Suh Jin yang sudah berada di depan Perpustakaan bertanya apa Sue Lim tidak dengar pengumuman tentang pertemuan para penghuni Sky Castle pukul 20.00 hari ini. Suh Jin menyuruh Suh Lim tiba 



dalam 10 menit, “Sepertinya para penghuni akan masuk paksa ke dalam rumahmu jika kamu terlambat semenit pun”


Panggilan berakhir. Sue Lim menghela nafas berat. Dia terpaksa menutup laptop menyudahi mengetikkan kisah karangan mengenai Young Jae.


Sue Lim berjalan menuruni anak tangga, tapi dia mendadak berhenti melangkah. Sue Lim termenung teringat pada pesan Yeon Du.


‘Bu Lee, tolong aku. Aku ingin....hidup’

Sue Lim lanjut membayangkan ketakutan Young Jae saat Soo Chang berniat menembaknya dengan berbekalkan ingatan saat dia membaca kisah Young Jae yang Young Jae tuliskan di tablet.

Sue Lim juga membayangkan bagaimana Myung Joo mengakhiri hidupnya.


Sue Lim menggernyitkan mata seolah mendengar suara tembakan dia kemudian menuruni anak tangga.

Sue Lim berhenti berjalan lagi. Dia membatin untuk menguatkan dirinya, “Jangan mundur. Penderitaan seperti ini tidak boleh terulang lagi”


Joon Sang tiba di Perpustakaan. Suh Jin memandangnya sekilas, dia kemudian menyerahkan berkas yang sedari tadi dia buka pada Min Hyuk, “Sepertinya kamu harus membuka pertemuan ini, Prof Cha”


Min Hyuk tersenyum karena merasa terhormat, “Aku ?”, tanyanya.

Seung Hye menyahut, “Kamu yang membuat hal ini menjadi masalah, bukankah sebaiknya kamu yang membuka pertemuannya, Yeh Suh eomma ?”


Suh Jin langsung melirik Jin Hee. Jin Hee otomatis berkata, “Akulah yang mempermasalahkan hal ini. Aku bilang pada semua orang setelah mendengarnya dari Soo Han”

Joon Sang menambahkan, “Apa pun itu, ini bisa menjadi masalah hukum. Jadi, kurasa sebaiknya kamu yang memimpin, Prof Cha”


Min Hyuk diam, dia sok jual mahal. Min Hyuk baru bicara setelah Suh Jin dan Seung Hye memandang ke arahnya.

“Baiklah. Aku akan menerimanya demi lingkungan kita”


Sue Lim tiba. Semua mata langsung menatapnya sinis.


Sue Lim sudah duduk satu meja dengan Suh Jin dan kawanan. Prof Cha menutup buku berlabel ‘Tanda Tangan Penghuni untuk Menentang Novelisasi Sky Castle’, dia lalu berujar, “Alasan kita semua berkumpul di sini adalah untuk menyatakan bahwa kami, Penghuni Sky Castle, sangat menentang ide bu Lee Sue Lim ssi untuk menulis novel atas tragedi yang terjadi pada Dokter Park dan keluarganya. Di luar para penghuni yang saat ini berada di luar negeri, total yang menandatangani dokumen ini adalag194 penghuni”


Min Hyuk menggeser buku dokumen tanda tangannya hingga ke depan Sue Lim, “99 % dari penghuni telah menandatanganinya”, tambahnya.


Sue Lim menilik isi buku itu. Jin Hee menggerakkan tangan menunjuk semua penghuni yang berdiri, lalu berkata, “Kami semua orang sibuk. Kami menyempatkan diri untuk berkumpul di sini meski kami sangat sibuk. Jadi, cepat berikan pernyataanmu. Bagaimana, kamu tetap akan menulis novelmu itu ?”


Suasana sejenal hening. Sue Lim menutup buku tanda tangan, dia memberitahu kalau novel debutnya diterbitkan 15 tahun lalu, dan dirinya tak pernah lagi menulis novel, “Aku bukan penulis terkenal, tapi kenapa reaksi kalian berlebihan ?”


Jin Hee mendengus, sementara orang – orang lainnya bergemerisik. Seung Hye membela Sue Lim, “Aku juga tidak mengerti. Dia bukannya ingin mempublikasikan kolom berita tentang Young Jae dan keluarganya. Haruskah seperti ini untuk mencegahnya menulis ?”


Sue Lim bertanya apa yang sebenarnya mereka takutkan, kenapa mereka sangat takut sampai harus melakukan aksi massa.

“Kamu pikir kami melakukan ini karena kami takut ?”, tanya Joon Sang.


Sue Lim menatap marah Suh Jin sambil melontarkan pertanyaan, “Kamu takut orang tahu biaya jutaan yang kamu keluarkan untuk sekolah ?”

“Ini bukan takut, tapi menyusahkan. Bagaimana jika orang tahu biaya tutor Young Jae adalah jutaan dolar ?”

Jin Hee menyahut, “Tentu saja mengganggu. Orang – orang akan menyinggung soal ketidaksetaraan akan terus membahas soal ini !”


Suh Jin mengingatkan jika mereka tidak bisa hidup sendirian di dunia ini. Mereka harus memikirkan kerugian relatif yang orang lain rasakan.

Sue Lim beda pemikiran, menurutnya itu bukan memikirkan tapi mencemoh. Suh Jin emosi, dia bertanya kenapa Sue Lim salah menanggapi niat baiknya.


Sue Lim balas mengamuk, “Bagaimana bisa dibilang niat baik saat kamu bilang orang miskin tidak perlu tahu ?”

“Tidak ada untungnya jika mereka tahu ! Lebih baik mereka yang tidak mampu, tidak perlu tahu !”

“’Kalian tidak setara dengan kami, jadi jalani saja hidupmu itu’ ?”


“Kamu sekesal itu ? Kenapa kamu pelintir tiap kata..........”

Sue Lim memotong, dia menyentak, “Kamu harus bicara dengan sikap begitu ? Kamu sangat paham apa yang dialami orang kurang mampu !”


Amukan Sue Lim membuat Jin Hee terhenyak, Joon Sang tampak waswas, sementara Seung Hye terlihat kebingungan. Suh Jin tertegun sesaat, kemudian dia berujar penuh penekanan, “Lantas ? Apa yang mau kamu katakan ? Kenapa kamu menyerangku, dengan sok membela orang miskin ?”


“Aku tahu kamu ingin melindungi si pelatih yang sudah membimbing anakmu. Rasa cintamu yang egois membuatmu memanipulasi orang lain untuk menyerangku ! Beraninya kamu terlihat seperti membela orang miskin ! Kamu lupa saat kamu tidak bisa membayar uang sekolah ? Menjual darah sapi............”. Sue Lim terdiam, dia sadar sudah kelepasan bicara.


Semua orang menatap Suh Jin penuh keterkejutan. Jin Hee bertanya pada Suh Jin, Sue Lim ini bicara apa, untuk apa eonni menjual darah sapi.


Suh Jin memandang Joon Sang, Joon Sang langsung memalingkan muka sebelum akhirnya tertunduk lemah.


Suh Jin tanpa pikir panjang lagi mengaku. Suh Jin membenarkan dia pernah menjual darah sapi, “Ayahku menjual jeroan di sebelah rumah jagal”

Sue Lim benar – benar merasa tak enak, “Hya... Han Suh Jin...”

Suh Jin menyela, “Kenapa kamu tidak memanggilku Kwak Mi Hyang ? Kenapa kamu tidak memanggilku dengan nama asliku ?”


Sue Lim hanya bisa menundukkan kepala, dia terlihat sangat menyesal. Suh Jin meneruskan meluapkan kemarahannya, “Menjadi ibu angkat Woo Joo pun tidak membuatmu tercela. Apa masalahnya jika aku mengganti nama dan masa laluku ? 

Suh Jin lanjut bicara dengan suara bergetar, Beraninya kamu menyebut soal itu saat kita sedang membahas Young Jae ? Kita berada di sini karena kamu, bukan aku ! Saat kami memakamkan Myung Joo, aku tidak bisa berbuat apa – apa ? Semua orang yang ada di sini sangat terluka ! Kamu beruntung dan pindah ke sini karena kesialan yang menimpa orang lain !! dan kini kamu ingin menjadikan Myung Joo bahan gosip ?”


Min Hyuk meminta Suh Jin tenang. Suh Jin menurut. Joon sang terlihat malu akan pengungkapan Suh Jin itu. Jin Hee sendiri memijat – mijat kepala sangking syoknya.


Min Hyuk menarik mafas, dia kemudian berkata, “Aku yakin keputusannya sudah ada. Bu Lee, apa rencanamu ?”

Suh Lim masih belum bisa berkata – kata. Seung Hye lantas bertanya, bukankah terlalu berlebihan jika mereka meminta keputusannya sekarang, Seung Hye menyarankan pemberian tambahan waktu agar Sue Lim bisa berpikir jernih.


Min Hyuk setuju, dia memberikan tambahan waktu 3 hari, “Aku yakin kamu akan memberikan jawabannya. Kita akhiri pertemuan hari ini”


Sue Lim bergegas beranjak. Suh Jin berdiri setelah melihat suaminya melangkah pulang. Suh Jin mengucapkan terima kasih pada Min Hyuk sebelum akhirnya pergi.


Jin Hee menyusul Suh Jin. Jin Hee memanggil – manggil Suh Jin tapi diacuhkan. Jin Hee gemas, dia membalik tubuh Suh Jin dengan cara menarik lengannya.


“Eonni... Apa – apaan itu ? Itu tidak benar, bukan ?

Semua orang berkumpul di depan pintu menyaksikan perdebatan mereka. Jin Hee mengulangi pertanyaannya, “Itu tidak benar bukan ? Kita sudah lama berteman. Itu mustahil !”


“Kamu tidak dengar perkataanku tadi ?”

Jin Hee terperangah, dia sampai berucap terputus – putus, “Tunggu dulu.. Kwak...Kwak Mi Hyang ? Kamu Kwak Mi Hyang ? Jadi, kamu tidak kuliah di Sidney ? Kamu tidak diwarisi barang – barang mahal Tiongkok dari ibumu ? Astaga... Astaga... Teganya kamu melakukan ini padaku ?!”


Suh Jin sekilas melirik orang – orang yang memperhatikan mereka berdua, dia lalu berkata, “Nanti saja bicaranya !”. Suh Jin pergi.


Jin Hee menggerutu, “Melihat jati diri seseorang itu memang sangat mustahil ! Aku tidak bisa mempercayi siapa pun !!!”, teriaknya pada Suh Jin yang tengah menaiki anak tangga.


Suh Jin mendadak berhenti. Suh Jin menatap tajam Jin Hee. Jin Hee refleks terhenyak hingga hampir melangkah mundur. Jin Hee meruntuki dirinya, “Aissh.. Aku hampir saja mundur. Ini sudah menjadi kebiasaan”. Jin Hee lantas cepat – cepat meralat ucapannya, “Baiklah eonni, kita bicara lagi nanti”.


Suh Jin pun kembali meneruskan perjalanan. Jin Hee ngedumel, “Dokter Kang juga... Apa ? Karena ada banyak bank hipotek di Sidney sampai posisi presdir tidak ada artinya ?”. Jin Hee mendengus, dia melanjutkan gerutuan sambil melihati Suh Jin, “Mereka berdua sudah membohongi kami !”


EmoticonEmoticon