Minggu, April 14, 2019

Sky Castle Episode 10 Part 5


Dong Hyuk berkata kalau dia akan menggantikan perban Yang Woo. Yang Woo mengiyakan, dia dengan suara lemas kemudian bertanya kenapa kedua kakinya masih kebas, apa ada pendarahan, apa Dokter Kepala memotong pembuluh darahnya, kenapa rasanya sangat pusing.

Dong Hyuk menimpali tenang, “Itu karena anda diberi suntikan pereda sakit punggung”


“Suntikan ?”, Yang Woo menoleh ke belakang, “Kamu sudah beri perban....” Yang Woo tak bisa melanjutkan ucapannya karena dia melihat Joon Sang.


Joon Sang sambil menggantikan perban mengatai Yang Woo cengeng, “Kamu tidak bisa percaya padaku setelah menjalani MRI ? Operasinya lancar !”

Yang Woo menjawab gelagapan, “Bu...Bukan... Ini bukan karena aku tidak bisa mempercayaimu”

Joon Sang tak mengindahkan, dia bertanya pada sang junior, “Dong Hyuk, bisa bantu keramasi rambut Dokter Woo ? Dia bau sekali !” 


Yang Woo langsung menggaruk – garuk rambut lalu membaui tangannya. Joon Sang berpesan, Yang Woo sudah diberi antibiotik, jangan diberi obat pencahar karena perut orang ini sangat lemah.

Dong Hyuk mengiyakan.


Joon Sang melangkah keluar, Yang Woo berteriak, “Dokter Kang, terima kasih !”


Dong Hyuk berkata, “Sulit kupercaya Dokter Kang sendiri yang mengganti perbannya. Dia pasti sangat peduli dengan anda”

Yang Woo tersentuh, tapi dia memilih mengalihkan topik, “Keramasi saja aku. Astaga, bau sekali”, ujarnya.


Presdir Choi mondar – madir di ruangannya. Tidak lama kemudian orang yang ditunggu – tunggu tiba. Presdir Choi pun mempersilahkan Chi Young duduk.


Presdir Choi bertanya, bagaimana, apa Chi Young sudah mempertimbangkannya.

“Seperti yang pernah kubilang, sepertinya aku tidak.....”

Presdir Choi tertawa getir, “Astaga, kamu ini. Aku hanya ingin mengajakmu bermain golf di akhir pekan. Apa susahnya itu ?”


Chi Young tersenyum, Chi Young berkata jika hal itu tidaklah sulit, bukan hanya dirinya yang tidak bisa bermain golf tapi Anggota Kongres Kim juga belum dia hubungi sejak orang itu terpilih menjadi perwakilan partai. Chi Young merasa keputusannya inilah yang terbaik.


Presdir Choi langsung mentertawakannya, “Astagaa... Aku bertanya karena kudengar kamu dekat dengan Anggota Kongres Kim. Lupakan itu”. Presdir Choi pada akhirnya pun merajuk.


Chi Young tak memperumit masalah itu, dia berdiri kemudian membungkukkan kepala, pamit permisi.


Presdir Choi memanggilnya membuat langkah Chi Young terhenti. Chi Young berbalik, Presdir Choi berucap, “Berjalan di jalan yang benar memang menenangkan, tapi kamu pasti tahu yang orang bilang soal air jernih, ‘Tidak ada ikan – ikan besar jika airnya terlalu jernih’”


Chi Young membungkuk minta maaf sebelum akhirnya menjawab, “Aku tidak ingin mencari ikan yang tidak pas untuk direbus” :D


Presdir Choi kesal dibuatnya. Chi Young membuka pintu dan mendapati Pak Im yang tengah berdiri.

Chi Young yang tidak tahu apa – apa mempersilahkan Pak Lim masuk. Pak Lim mengiyakan saja.


Setelah Chi Young benar – benar pergi, Pak Lim langsung melemparkan kode anggukan pada dua rekan wanitanya, dia pasti sedari tadi menguping membicaraan Presdir Choi dan Chi Young dari balik pintu.


Yang Woo menginformasikan berita terhangat barusan pada Joon Sang yang tengah berkunjung ke kamar rawatnya. Yang Woo memberitahu kalau menurut Pak Lim hubungan si kura – kura tua dan Chi Young mulai runtuh. Joon Sang merasa ini momen yang menguntungkan untuknya.

Yang Woo mengimbuhkan, “Si kura – kura mengintai Chi Young agar bisa memanfaatkannya sebagai langkah kesuksesannya”


Joon Sang terkesiap, “Sebagai langkah kesuksesannya ?”, tanyanya.

“Menurut firasat Pak Lim, Sepertinya dia ingin menjadi Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan”

Joon Sang mendengus, “Dia hanya presdir rumah sakit dan ingin menjadi pemegang kendali sebuah deoartemen yang menyedot 40% dana negara kita ?”


Yang Woo tertawa, “Konyol, bukan ?”

“Tahu apa dia soal pensiun dan kesejahteraan ? Pasti dia pikir bisa mendapat semuanya dari melobi orang. Omong – omong bagaimana Chi Young bisa tahu soal pemimpin partai penguasa itu ?”

“Saat Pusat Layanan Kesehatan Sunjoo ditutup, dia seperti melakukan protes dan merawat pasien di sana. Dan Anggota Kongres Kim, presdir Komite Kesehatan dan Kesejahteraan pada saat itu juga ikut menentangnya, bahkan melakukan aksi mogok makan. Sejak kejadian itu, mereka memang sangat akrab”


“Jadi, dia ingin memanfaatkan bedebah itu sebagai batu loncatannya ?”

Yang Woo tertawa, dia berkata jika pilihan Presdir Choi benar – benar buruk. Yang Woo lalu mengingatkan kalau Posisi direktur untuk Perencanaan dan Koordinasi sedang kosong, bukankah sebaiknya Joon Sang mengambil hati Presdir Choi.


Joon Sang seketika berdiri, “Untuk apa mengambil hati manusia tidak berguna itu ?”


Di ruangannya, Joon Sang duduk sambil berfikir dalam durasi waktu yang lumayan lama sebelum akhirnya dia bergumam penuh ambisi, “Jika aku menjadi direktur Perencanaan dan Koordinasi, aku akan menjadi dirut dengan mudah”


Joon Sang bergegas mencari profil ‘Kim Hyuk Jae’ di Ever, (Naver jadi Ever :D).


Profil Kim Hyuk Jae terbuka, Joon Sang bergumam, “Dia lulusan SMA Namseo... Jurusan administrasi negara di Universitas Hanguk. Aigoo.. Bukan tandingan kampus kami”


Joon Sang kemudian menghubungi kenalannya, “Ini aku....”

“..Apa di Sky Castle ada yang pernah bersekolah di SMA Namseok ?”

Setelah orang di seberang panggilan memberitahu, Joon Sang langsung terhenyak, “Siapa ? Prof Cha ?”

Joon Sang memejamkan mata frustasi, dia lanjut mengerutu, “Kenapa harus di br*ngs*k itu ?”


Panggilan usai, Jon Sang berdiri, dia kembali berpikir. 


Dan pada akhirnya Joon Sang memutuskan menghubungi Min Hyuk. Sangking malu pada dirinya sendiri karena harga dirinya terpaksa harus dikesampingkan, Joon Sang pun melakukan panggilan di pojokan.

Panggilan terhubung, Joon Sang bicara dengan nada akrab, “Aa,,, Prof Cha ? Halo, ini Kang Joon Sang. Wahahah... Kita orang tua dari anak - anak yang menjadi pengurus OSIS. Kita harus mengakrabkan diri. Aku ingin mentraktirmu minum. Bagaimana ? Kamu ada waktu malam ini ?”


Min Hyuk yang sedang berjalan keluar ruangan usai mengajar, bertanya, “Hari ini ? Aa... Entahlah. Aku harus mengecek jadwalku dulu. Sebentar, ya ?”

Min  Hyuk membekap speaker ponselnya, dia menggerutu, “Mau apa ular licik ini ? Sejak kapan kita akrab untuk minum berdua ?”


Min Hyuk berhenti ngedumel karena ada mahasiswa melintas yang memberikan tundukan salam hormat padanya.

Min Hyuk kemudian mendekatkan lagi ponselnya ke telinga. Min Hyuk jual mahal, dia berbohong dengan berkata kalau hari ini memiliki rencana.


“Aa...Begitu, ya ? Sayang sekali.. Aku berharap bisa bertemu untuk membahas soal pendidikan anak – anak kita”


Pada akhirnya, Joon Sang dan Min Hyuk saling menyulangkan gelas minuman alkoholnya. Joon Sang berterima kasih karena Min Hyuk sudah membatalkan janji dan bersedia menemuinya.

Min Hyuk tersenyum lalu menenggak minumannya kemudian berkata, “Aku harus mengesampingkan hal lain jika menyangkut pendidikan anak”


Joon Sang berbosa – basi, dia berkata semua orang cenderung makin serakah, sulit rasanya bertemu dengan orang yang tulus, “Aku sangat beruntung memiliki tetangga sepertimu”


Min Hyuk besar kepala, dia sampai meletakkan sumpit tak jadi makan. Min Hyuk lanjut memberi petuah, “Orang bilang ayah yang masa bodoh adalah prasyarat untuk pendidikan yang baik. Kini sudah tidak berlaku lagi. Ujian masuk zaman sekarang semakin rumit. Bukan lagi perhatian, ibu tapi perhatian dari ayah 10 kali lebih efektif”


Joon Sang mengangguk – angguk, dia berujar jika masa para ayah untuk terlibat telah tiba.

Min Hyuk penuh semangat membenarkan. Mereka kemudian saling melemparkan tawa.


Joon Sang berucap penuh kehati – hatian sambil menuangkan minuman, dia mulai membahas topik utama. 


“Cara berpikirmu memang berbeda karena kamu lulusan SMA Namseok. Kudengar ada banyak orang hebat lulusan SMA itu”

“Tentu saja. 150 murid lebih per tahun diterima di Universitas Nasional Seoul. Mantan jaksa penuntut umum adalah alumni SMA Namseok. Hakim Mahkamah Agung Park adalah seniorku”

“Bagaimana dengan Kim Hyuk Jae yang dari perwakilan partai itu ?”


Min Hyuk tertegun sesaat sebelum akhirnya dia memberitahu jika dirinya dan Hyuk Jae tumbuh dilingkungan yang sama.

“Aaa.. Begitukah ?”. Joon Sang lalu tertawa.

Min Hyuk memasang wajah serius, dia mengimbuhkan, “Tapi kenapa dia ?”


Joon Sang menahan jawaban, “Bagaimana jika kita minum dulu”, tanyanya sambil mengangkat ceret minuman. Min Hyuk menatapnya penuh curiga sebelum akhirnya menadahkan gelas kosongnya ke mulut ceret.


Suh Jin tengah mencari – cari buku di rak Perpustakaan. Semua orang menatap ke arahnya sambil bergunjing, Suh Jin menyadarinya, dia sontak menoleh ke kiri ke kanan, semuanya langsung memalingkan muka.


Sue Lim diam – diam dari balik tiang menyangga memperhatikan kawan lamanya itu. Ekspresinya terlihat sedih.


Suh Jin memutuskan pergi tapi dia malah mendapati Sue Lim. Suh Jin memandangnya kesal sebelum akhirnya memantapkan langkah keluar.


Sue Lim menghadang jalannya, “Bisa kita bicara ?”

Suh Jin tak menjawab, dia menghela nafas lalu ngeloyor pergi. Sue Lim memegangi lengannya, “Lima menit saja”, pintanya.


Sue Lim dan Suh Jin kini sudah duduk berhadapan. Sue Lim tertunduk menyesal, Sue Lim berkata seharusnya dia tidak emosi, meski emosi, dia tidak seharusnya bicara seperti itu, “Aku sangat ceroboh sudah menyinggung soal darah sapi. Aku sangat menyesal”

Suh Jin menjawab ketus, “Katakan saja kamu masih mau menulis tentang Young Jae atau tidak !”


“Aku juga minta maaf sudah salah menilai Kim Joo Young. Dia dana ku memiliki kisah yang sama”

“Kisah yang sama ?”

“Dia mengajar seorang murid yang kukenal di sekolah tempatku mengajar. Anak itu tewas setelah bertengkar dengan keluarganya soal nilainya. Dia masih mengingat anak itu setelah 19 tahun ini. Dia tidak memanfaatkan dendam Young Jae. Pikiranku sempit”


Suh Jin mengatai Sue Lim yang sudah kehilangan motivasi menulis hingga menduga Pelatih Kim pelaku utama tragedi Young Jae.

Sue Lim membenarkan, “Tapi seperti yang kamu bilang, aku bisa fokus pada orang tua Young Jae”

Suh Jin emosi, dia bertanya untuk apa Sue Lim ingin tahu orang tua Young Jae.

“Pelatih Kim bilang dia akan membantu”


Suh Jin terkejut, “Dia akan membantu ?”, tanyanya.

Sue Lim mengangguk., dia kemudian menceritakan pertemuannya dengan Pelatih Kim di mana Pelatih Kim bilang kalau dia ingin mencegah tragedi yang menimpa keluarga Young Jae menjadi bahan gosip orang – orang sambil minum minuman alkohol.


“Aku benar – benar minta maaf padamu soal ini”, ucap tulus Sue Lim namun Suh Jin masih bersikap dingin, “Sudah selesai bicaranya ?”, tanyanya.


Suh Jin beranjak, padahal Sue Lim belum mengeluarkan jawabannya. Sue Lim menghela nafas pasrah.




Penting !!!

Gaes kalian ingat Nyonya kenalan Ny Yoon yang pas itu tanya2 Yeh Suh mengenai pelatih Kim ?

Nah dia itu ternyata Laura Jung, maaf yah aku benar2 lupa sama muka ajumma itu :D. Itulohh ajumma yang nyapa Pelatih Kim pas jalan bersisian sama Suh Jin saat mau keluar restoran.

Untuk eps 9 part 2 sendiri udah aku perbaharui, nama Nyonya udah aku ganti sama Laura Jung. Ingat yaah Laura mengenali Pleatih Kim sebagai Jennifer.


EmoticonEmoticon