Jumat, April 19, 2019

Sky Castle Episode 12 Part 3


Soo Han terantuk – antuk di meja belajar tapi Jin Hee memaksanya bangun dan mengerjakan soal.

Soo Han merengek, “Sampai kapan aku harus begini ? Ini sudah lewat tengah malam”


Jin Hee sembari membawa penggaruk punggung berkata, “Ibu bilang selesaikan semua soal persamaan linear itu hari ini !”, teriaknya.



Soo Han protes, dia mendekatkan lembaran soalnya pada sang ibu, “Soalnya sebanyak ini. Mana bisa kuselesaikan makam ini ?!!!!”

“Diam dan kerjakan saja !!!!!”, ujar Jin Hee sambil memukulkan penggaruknya ke udara sehingga membuat Soo Han terpaksa menuruti keinginannya.


Jin Hee mencoba menyadarkan Soo Han yang sedang bergulat mengerjakan soal dengan berkata, “Yeh Bin tidak lebih baik darimu dalam banyak hal ! Ayahmu dokter, dan ibu dari keluarga terpandang, tidak seperti ibunya. Ibu juga lebih pandai.....”. Jin Hee bergegas meralat penuturannya, “Maksud  ibu, kami sama pandainya !”


Soo Han mendesah, Jin Hee lantas memukuli Soo Han, “Kamu tidak punya harga diri ? Kamu tidak malu kalah dari Yeh Bin ?”

Soo Han dengan suara menahan tangis memberitahu jika mereka berdua berbeda.

“Astagaa, berandal ini !!!”


Yang Woo membuka pintu kamar, dia bertanya apa Jin Jin tidak tidur, ini sudah larut.

Jin Hee dan Soo Han sama - sama menoleh ke arah Yang Woo. Soo Han memanggil sedih sang ayah seakan minta diselamatkan.


Jin Hee mengeluarkan emosinya, dia memperingatkan Yang Woo agar tidak ikut campur, “Kamu akan mengomeliku karena nilai dia jelek dan bilang dia mirip denganku ! Kamu sengaja membuatku seperti ibu yang tidak becus ya ?!!!”

Yang Woo lantas berteriak, “Anak nakal ! Belajar lebih keras !!!!!!”. Yang Woo lanjut pamit tidur pada Jin Hee membuat Soo Han pasrah.


Jin Hee menatap sang anak, dia menyuruh Soo Han cepat menyelesaikan semua soal itu, “Kamu harus masuk kelas intensif sebelum Yeh Bin !!!”

Soo Han mengusap air matanya.


Esoknya, saat sarapan bersama, Se Ri memberitahu jika Malia Obama masuk ke kelasnya tahun lalu dan mereka menjadi sukarelawan untuk para tunawisma.


“Jadi, putri ayah.....Putri Cha Min Hyuk berteman dengan putri Barack Obama ?”

Se Ri mengangguk, “Aku ingin menjadi staf tinggi di pemerintahan Amerika. Mana mungkin kesempatan besar itu aku lewatkan begitu saja ? Orang bilang, orang – orang disekitarmu menentukan kemampuanmu untuk bisa meraih tujuanmu”


Min Hyuk kegirangan, dia refleks menggebrak meja sehingga semua orang terhenyak kaget. Min Hyuk penuh senyuman sekaligus rasa bangga berujar, “Tentu saja. Kamu memang putri ayah !”

“Ayah selalu bilang padaku agar aku harus terbang bersama elang jika ingin menjadi elang”, ucap Se Ri sambil menggerakkan tangan menunjuk langit.

“Benar sekali ! Itu jalan singkat menuju kesuksesan”

Se Ri mengangguk sembari tersenyum.


Min Hyuk berkata, hanya pecundang yang menyembunyikan masa lalunya dan berbohong soal semuanya tapi pada akhirnya kebenaran akan terkuak dan mereka akan dipermalukan seperti seseorang yang mereka (Keluarga Cha) kenal.

Seung Hye memperingatkan lembut, “Yeobo, kenapa kamu tiba – tiba membahas soal ini ?”

Min Hyuk menanggapi santai, “Toh anak – anak sudah tahu soal ini. Aku bilang begini untuk mendidik mereka”


Se Ri penasaran, dia menoleh menatap Ki Joon, “Siapa yang ayah bicarakan ?”, tanyanya.

Ki Joon berucap lirih, “Ibunya Yeh Suh”

“Hya !”, peringati Suh Joon.


Se Ri bertanya memangnya kenapa ibu Yeh Suh. Seung Hye memanggil halus nama Ki Joon mengkodekan agar anak itu bungkam tapi Ki Joon malah berkata kalau Yeh Suh sangat egois dan arogan, dia layak mendapatkannya.

“Kenapa kamu bicara seperti itu soal temanmu ?”


Ki Joon akhirnya diam sementara Min Hyuk berujar, “Apa yang kita tabur akan kita tuai. Apa Joon Sang sangat memaklumi atau memang bodoh ? Aku tidak akan tahan dengan wanita seperti itu sehari pun”

Seung Hye memandang geram Min Hyuk dalam diam.

Min Hyuk mengambil sumpit dia lalu meneruskan perkataannya, “Aku tidak mengerti Joon Sang”. Min Hyuk kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya. Dia lanjut mentertawakan Joon Sang.


Jin Hee masuk kamar Soo Han, dia berteriak memanggili nama sang anak namun Soo Han tak bergeming karena tengah tertidur pulas.

Jin Hee lantas menyibak selimut Soo Han lalu memukuli pan*** Soo Han menyuruhnya cepat bangun karena harus segera berangkat ke akademi.

Soo Han membungkus tubuhnya dengan selimut lagi, dia protes karena baru tidur pukul 2.00 malam.


Jin Hee gemas, dia menarik selimut yang membungkus tubuh sang anak dengan kekuatan penuh sambil berkata, “Sudah pukul 7.00. Cepat bangun !!”. Akibatnya Soo Han terjatuh ke lantai. Soo Han menggernyit kesakitan sebelum akhirnya naik ke ranjang. Soo Han mengeluh kenapa juga Yeh Bin harus naik tingkat.


“Dasar bod*h !!! Kamu harus berusaha keras untuk lebih unggul daripada dia !! Ibunya bahkan menghina ibu karena kamu seperti ini !!!”


Jin Hee tidak tahan, dia berjalan cepat mengambil penggaruk punggung di meja belajar, dia lalu memukul - memukulkan senjata itu ke kasur sembari berujar,  “Bisa bangun, tidak ? Cepat !!”


Soo Han sontak melarikan diri, saat hendak keluar pintu Soo Han berhenti sejenak, dia berkata jika ia mau bolos dari akademi.

Jin Hee seketika murka, “Mau bolos ? Kemari kamu. Mau cari gara – gara, ya ?”. Jin Hee mengejar Soo Han.


Soo Han berlari menuruni tangga sementara mulutnya terus – menerus mengeluarkan protesan, “Anak macam apa yang berada di akademi dari pukul 9.00 sampai 22.00 bahkan saat liburan musim dingin ?”

Jin Hee yang beberapa langkah dibelakangnya menyahut, “Semua anak ! Banyak sekali anak – anak yang seperti itu bahkan lebih !!! Kamu tidak tahu Yeh Bin belajar dengan tutornya begitu dia pulang !!!?”


“Meski aku belajar seperti itu, aku tidak akan bisa mengalahkannya !!!!”

“Kamu tidak bisa karena tidak belajar !!!”


Soo Han berhenti berlari, dia berteriak, “Bukan !! Ini karena aku mirip ibu !!!”

Jin Hee menyentak membuat putranya kembali kabur, “Beraninya kamu menjadikan ibu alasan !!!”

“Nilai ibu sangat buruk saat masih sekolah !!!”

“Kamu melihatnya ? Kamu lihat rapor ibu, ya ?”


Jin Hee berhasil mencengram pakaian Soo Han. Soo Han menahan tubuhnya agar tidak tertarik dengan berpegangan ke rak tempat Jin Hee meletakkan koleksi – koleksi kesayangannya.

“Kamu mau ke akademi atau tidak ?!!!”

“Lepaskan !”


Jin Hee tak kunjung melepaskan tarikannya pada pakaian sang anak dia terus mengomel akibatnya rak itu roboh. Jin Hee menjerit histeris karena banyak barang koleksinya pecah.


Jin Hee dan Soo Han sama – sama mematung dalam posisi berpelukan saking syoknya.


Jin Hee melepaskan pelukannya, dia berjalan mendekati pecahan – pecahan koleksinya, “Oh My God ! Astaga,, ini semua sangat mahal”. Jin Hee menangis, “Oh My baby... My baby yang berharga !!! Aku butuh waktu lama untuk bisa mengoleksi semuanya”


Jin Hee menatap sang anak, dia berteriak, “Hya !!! Beraninya kamu memecahkan semua koleksi mahal ini !!!! Semua nilaimu jelek dan tidak ada yang bisa dibanggakan darimu ! Ibu tidak betah melihatmu !!! Keluar ! Kamu bahkan tidak layak untuk belajar !!!! Tidak usah ke akademi !”


Soo Han perlahan – lahan memutar tubuhnya yang sedari tadi serasa membatu, dia dengan jelas mendengar gerutuan Jin Hee, “Kenapa aku melahirkan anak bodoh ini ?”

Ekpresi Soo Han benar – benar terlihat kacau matanya juga berkaca – kaca.


Joon Sang dan Presdir Choi makin akrab. Presdir Choi sambil tertawa berkata, “Lihatlah ! Aku mendapat skor elang tujuh kali sejauh ini, tapi itu kali pertamaku mendapat As”

“Orang bilang kita akan beruntung selama tiga tahun setelah dapat As. Mulai sekarang anda akan beruntung !”


Presdir tertawa lepas, dia berujar jika ia beruntung karena bermain dengan Joon Sang, “Lain kali kita juga harus mengundangnya.... Siapa namanya tadi ?”

“Prof Cha Min Hyuk”

“Benar ! Kita juga undang Prof Cha. Jika memungkinkan kita juga undang Pak Kim Hyuk Jae”


Joon Sang tersenyum, dia meminum minumannya sebelum akhirnya memberitahu kalau dia sebenarnya sudah mengundangnya tapi jadwal Pak Kim sangat padat, dia belum ada waktu untuk bermain golf bersama.


Presdir Choi tertawa getir, “Begitukah ? Astagaaa. Sepertinya dia agak rewel. Seharusnya dia lebih terbuka dan supel agar bisa sukses sebagai politikus”

Joon Sang bertanya, bukankah lebih baik jika bertemu dengan Pak Kim dalam kondisi wajar.

Presdir Choi memasang wajah penasaran, “Wajar Bagaimana ?”, tanyanya.


EmoticonEmoticon