Senin, April 22, 2019

Sky Castle Episode 14 Part 1


Pelatih Kim menuangkan minuman alkohol ke dalam dua gelas.

Pelatih Kim membawa gelas – gelas itu ke meja makan, dia meletakkan satu gelas alkoholnya di hadapan Suh Jin. 


Pelatih Kim duduk, Suh Jin masih terus saja berdiri dengan aura dingin sambil menyilangkan tangan.

Suh Jin tak mengeluarkan sepatah kata pun, dia menatap tajam Pelatih Kim. Pelatih Kim lantas membuka pembicaraan, “Kudengar anda bertanya soal Hye Na kepada Pak Jo. Aku menyuruhnya menunjukkannya padamu sebab kurasa aku harus jujur karena anda mencurigaiku. Aku merasa hancur setelah tahu soal Hye Na. Itu sebabnya aku ingin anda menjaga bom waktu itu tetap dekat dengan anda sembari menyingkirkan detenatornya. Aku merasa cinta dan kasih sayang anda bisa meredakan kebencian Hye Na. Itulah harapanku”.


Suh Jin tampaknya sudah muak dengan ocehan Pelatih Kim sementara Pelatih Kim melanjutkan, “Pasti anda merasa sangat tidak nyaman saat tahu bahwa aku mengetahui persoalan itu”


Suh Jin geram, “Tidak nyaman ?”, tanyanya ketus.

Pelatih Kim menimpali tenang. Pelatih Kim berkata intinya dia hanya memikirkan penerimaan Yeh Suh di UNS dan kesuksesannya, “Anda mengira akan lebih aman jika Hye Na tinggal di tempat lain ? Maka Yeh Suh yang akan tahu lebih dahulu”


“Lantas ? Apa dengan begini Yeh Suh tidak tahu lebih dahulu ? Kamu berharap aku bisa merangkulnya dengan kasih sayang ? Kamu mau mulutmu kurobek ?”

Suh Jin menunjuk Pelatih Kim dengan telunjuknya, dia lalu berucap, “Kamu dipecat. Mulai sekarang, jangan ganggu putriku lagi ! Jangan berpikir aku sama dengan Lee Myung Joo ! Dia membiarkanmu memanfaatkannya, tapi tidak demikian denganku ! Bisa – bisanya kamu memberi nomor kontak Ga Eul kepada Young Jae ?!”


Suh Jin tak tanggung – tanggung lagi, dia menyiramkan jamuan minumannya pada wajah Pelatih Kim.


Suh Jin menaikkan suaranya, “Kamu sengaja menghancurkan keluarga itu atau apa ? Kamu bertanggung jawab atas kematian Myung Joo dan Young Jae yang berakhir seperti itu !!!”

Pelatih Kim tetap saja memasang sikap santai tanpa rasa bersalah dia mengambil tisu di meja untuk mengelap mukanya. Pelatih Kim tersenyum dia berujar jika ini semua tidak benar karena keserakahan Lee Myung Joo lah yang membunuhnya.


Suh Jin mendengus tak habis pikir. Pelatih Kim bangkit, dia berjalan mendekati Suh Jin sambil berkata kalau Myung Joo tidak terima jika putranya, Mahasiswa UNS menjalin hubungan dengan Ga Eul, gadis rendahan yang miskin, “Kesombongannya.......”

Suh Jin menyela, dia membentak, “Tutup mulutmu ! Young Jae mengatakan akan berhenti kuliah dan memutuskan hubungan darah dengan orang tuanya !! Orang tua mana yang tidak hancur ? Kamu bilang itu kesombongan ?“


Pelatih Kim malah tersenyum sebelum akhirnya berucap, “Bu Lee hanya perlu membayar uang kuliahnya dan mengajukan cuti. Seharusnya dia menunggu Young Jae selama apa pun itu. Tidak, seharusnya mereka menghentikan keserakahan mereka dan menyiapkan diri untuk menerima apa pun pilihan Young Jae. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan orang tua ?”


Suh Jin maju beberapa langkah, dia mengulangi perkataan Pelatih Kim, “Yang seharusnya dilakukan orang tua ? Jadi, mengajar murid cerdas membantumu mengobati lukamu ?”

Kata – kata Suh Jin mulai membuat Pelatih Kim bereaksi. Suh Jin meneruskan, “Dan agar aku mempercayaimu,  kamu bahkan memanfaatkan putrimu yang malang itu. Kamu masih anggap dirimu pantas menjadi orang tua ?”

Mata Pelatih Kim berkaca – kaca, raut mukanya mengeras menahan marah. 


Suh Jin makin mengolokinya, “Karena inilah kamu akhirnya kena sial....karean kamu sendiri jahat”

Suh Jin beranjak. 


Pelatih Jo ternyata sedari tadi ada di apartemen sang atasan. Pelatih Jo melihati Suh Jin yang berjalan menuju pintu keluar.


Pelatih Kim menangis, jarinya terkepal erat. Pelatih Kim menggila, dia menjerit sambil menampik gelas minum kosong bekas jamuan Suh Jin.


Pelatih Jo memilih diam, dia menatap terenyuh atasannya.


Esoknya dalam rapat, Pelatih Kim berkata pada para tutor bawahannya jika mulai sekarang, Yeh Suh harus jadi murid yang terbaik apa pun caranya, “Pastikan dia mendapat nilai sempurna  untuk semua mata pelajaran. Aku tidak akan biarkan satu kesalahan pun. Lakukan semampu kalian agar dia mendapatkan nilai sempurna ! Dia harus menjadi murid terbaik. Kalian mengerti ?”

Semua tutor mengiyakan.


Pelatih Jo melirik Pelatih Kim entah apa yang dia pikirkan.


Yeh Suh terperangah melihat cetakan artikel yang memuat potret sang pelatih, “Dia tersangka pelaku pembunuhan suaminya ? Ini apa, ibu ?”


Suh Jin penuh penyesalan berujar, “Ibu benar – benar minta maaf”. 

Suh Jin kemudian menghela nafas sembari menutupi sebagian wajahnya, dia mengutarakan penyesalannya karena seharusnya ia memeriksa latar belakang Pelatih Kim lebih dalam. Suh Jin lanjut memberitahu kalau dia baru tahu soal kasus ini.


“Benarkah ini ? Dia benar – benar membunuh suaminya ?”


“Dia dilepaskan karena tidak cukup bukti, tapi semua warga Korea yang tinggal di Fairfax pada saat itu, mengatakan sangat besar kemungkinan dia membunuh suaminya. Rumor itu tidak akan tersebar tanpa alasan”. Suh Jin memanggil nama Yeh Suh, dia lalu berkata jika sebaiknya mereka mengakhiri hubungan dengan Pelatih Kim, “Mana bisa kita mempercayai orang seperti dia ? Ibu tidak bisa mempercayakan dia untuk mendidikmu !”


Yeh Suh meletakkan kumpulan lembar artikel ditangannya, “Jadi apa rencana ibu ? Bukankah ibu selalu bilang kita harus berpikir tenang di saat seperti ini ?”, tanyanya.

“Ya..Ibu memutuskannya setelah memikirkannya dengan rasional. Ibu merasa yakin kamu bisa masuk Kedokteran UNS tanpa Pelatih Kim. Ibu akan mencari guru yang berkarakter bagus dan sangat berkompeten........”


Yeh Suh memotong, dia mengingatkan jika Suh Jin sudah pernah coba mencari tapi gagal. Suh Jin membela diri, dia beralasan karena saat itu tepat sebelum pertengahan semester tapi sekarang sudah musim liburan.

“Jadi, aku bisa mempercayai ibu ?”

“Tentu saja. Kamu bisa percaya ibu. Jangan khawatir”


Sue Lim sibuk membaca buku berjudul, ‘Bagaimana Kita Berubah Menjadi Monster ?’ di Perpustakaan.

Sue Lim menoleh ke arah pintu masuk karena mendengar suara heboh Jin Hee memanggilnya berulang – ulang dengan sebutan ‘Eonni’.


Jin Hee berlarian menghampiri Sue Lim. Jin Hee bertanya pada Sue Lim apa sudah mendengar kabar.

Sue Lim bingung, “Kabar apa ?”, tanyanya.


“Aigooo, sepertinya kamu belum dengar. Sesuatu yang menggemparkan telah tejadi ! Jadi, Se Ri........”

Jin Hee mendadak diam, dia celingukan ke sana ke mari memastikan keadaan sebelum akhirnya menyuruh Sue Lim mendekat. Sue Lim menurut, Jin Hee pun berbisik, “Dia berbohong soal dia diterima di Harvard ! Gara – gara itu, Seung Hye terbaring sakit saat ini”


Sue Lim tercengang, dia detik itu juga langsung mengembalikan buku ditangannya ke rak.


Jin Hee bertanya keberanan, “Apa ? Mau ke mana ?”

Sue Lim menjelaskan sambil berjalan, “Pasti dia sangat terpukul. Aku akan melihat keadaannya”

“Kamu mau ke rumahnya ? Seung Hye tidak akan mengizinkanmu masuk dengan kondisi begini”


Sue Lim berhenti melangkah, dia lalu memberikan pemahaman pada Jin Hee, “Justru itu. Dilihat dari karakternya, dia tidak akan mampu keluar rumah. Jadi kitalah yang harus menemuinya. Kita tidak boleh hanya duduk diam”


Sue Lim meneruskan perjalanannya. Jin Hee buru – buru menaruh bukunya, dia kemudian berlari kencang menyusul Sue Lim.


Suh Joon menyajikan kopi untuk ibu dan dua tamunya. Jin Hee mengelus punggung Suh Joon sementara Seung Hye menatap putranya penuh tanda tanya.


Sue Lim lantas menjelaskan jika dia menghubungi Suh Joon untuk memintanya membukakan pintu. Sue Lim lanjut melarang Suh Joon menghawatirkan ibunya, dia menyuruh Suh Joon naik ke atas. Sue Lim juga tak lupa mengucap terima kasih atas kopinya.

Suh Jon sontak membungkuk hormat sebelum akhirnya beranjak.


Sue Lim dan Jin Hee menikmati minumannya. Sue Lim lalu bertanya apa Seung Hye sudah makan. 

Seung Hye masih terdiam dengan tatapan kosong.


Jin Hee gantian bicara, dengan cemas dia berkata kalau Seung Hye harus makan, Jin Hee sok – sokan memberikan peribahasa, “Sepotong roti lebih baik daripada kicauan burung - burung”. Jin Hee tiba – tiba mematung karena sadar kiasannya malah menjurus ke gosip Se Ri, Jin Hee bergegas meralat penuturannya, “Maksudku, ‘Sebelum mendaki gunung.......’”. Jin Hee diam lagi, “Bukan itu lagi”, gumamnya lirih, “Kita harus menunggangi harimau......” Jin Hee menyerah mengeluarkan peribahasa, dia berucap, “Intinya, kamu harus makan agar bertenaga dan mampu menghadapi situasi ini”


Seung Hye menangis, Sue Lim mengelus punggung Seung Hye untuk menenangkannya.

Tidak lama kemudian Seung Hye bersuara, “Aku benar – benar tidak mengerti. Meski aku lulus dengan gelar doktor, bagiku fokus membesarkan anak – anak itu jauh lebih penting. Jadi, aku meninggalkan semua impianku demi mereka”


Jin Hee terenyuh, matanya memerah. Seung Hye meneruskan, “Hidupku terasa sangat hampa. Semua terasa sia - sia”


Sue Lim tidak tahan melihat air mata Seung Hye, dia mengambil tisu lalu memasukkannya dalam genggaman Seung Hye.


Seung Hye mengusap tangisnya. Seung Hye berkata kalau ini semua salahnya, seharusnya dia tidak mengirim Se Ri ke Amerika sejak awal, “Aku sangat sibuk membesarkan si kembar. Jadi, saat kakakku menawarkan diri untuk mengasuh Se Ri di Amerika, aku merasa begitu lega. Aku mengirim putriku yang berusia 13 tahun ke luar negeri,  dan aku sangat senang karena nilai – nilai studinya sangat bagus. Aku....Akulah yang salah”. Seung Hye makin terisak.


Sue Lim ikutan menangis, dia mengambil tisu untuk mengusap air matanya.


Jin Hee protes, dia bertanya kenapa Seung Hye menyalahkan dirinya, ia sendiri bahkan kesulitah membesarkan Soo Han. Jin Hee menyedot ingusnya, dia kemudian mengimbuhkan, “Ditambah, kudengar Se Ri lah yang ingin bersekolah di Amerika Serikat”


“Karena suamiku sangat terobsesi dengan nilai pelajaran anak – anak, aku berusaha keras untuk memastikan anak – anak tidak membuat kesalahan. Tapi kenapa dia tega berbohong untuk hal seperti itu ? Kenapa putriku sendiri melakukan penipuan ? Aku lebih baik.....mati dan menghilang”


Sue Lim memeluk Seung Hye. Jin Hee yang tak kalah sedih mendengar kisah itu juga ikut memberikan pelukan, “Astaga.. Eonni, Ya ampun...Membesarkan anak saja sudah berat”, keluhnya.


EmoticonEmoticon