Rabu, April 24, 2019

Sky Castle Episode 15 Part 5


“APA ? SAMPAH ? KAMU MAU MATI, YA ?”, sentak Suh Jin sambil maju beberapa langkah.

Percekcokan semakin memanas, Jin Hee mengoloki dengan berkata Suh Jinlah yang tidak tahu betapa menjijikannya anaknya.




Seung Hye yang berada di tim Jin Hee berteriak, “KAMULAH YANG TIDAK TAHU BETAPA KACAUNYA YEH SUH !!”

“HYA !!!! DARI SEMUA ANAK – ANAK KITA, PUTRIMULAH YANG BERKARAKTER PALING BURUK ! MO ? BERANINYA DIA MENIPU SOAL BERKULIAH DI HARVARD !!!”


Seung Hye makin mengamuk, “KWAK MI HYANG SSI !”

Sue Lim terperangah melihat kekacauan di hadapannya. Seung Hye melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Menurutku kamu tidak berhak bicara seperti itu”


Jin Hee menyahut, “Benar sekali. Siapa kamu berani menuduh ?”


Joon Sang tidak terima, dia berdiri, “Apa ? Tuduh ?”

Yang Woo sontak bangkit, dia meminta maaf pada Joon Sang lalu memegangi istrinya, Jin Hee langsung memasang wajah cemberut.


Joon Sang meneruskan sentakannya, “KITA JUJUR SAJA ! DIA HANYA PENARI DI KELAB MALAM ! MUNGKIN SAJA DIA YANG MENDORONG HYE NA !”


Min Hyuk seketika bangkit dan langsung mengumpat, “BR*NGS*K ! SE RI BEKERJA DI BAGIAN PRODUK KELAB ! Dia penanggung jawab perencanaan, penjualan dan menarik pelanggan ! DIA SEORANG PROFESIONAL ! DIA BEKERJA DENGAN SERIUS !”, sentak Min Hyuk sampai – sampai Suh Jin menghindari muncratan liurnya sementara Joon Sang mengusap liur Min Hyuk yang terlanjur mengenai wajahnya.


Seung Hye membenarkan ucapannya suaminya, terlebih Se Ri tidak seperti Yeh Suh, monster yang hanya pedulli soal nilai.


“BIAR KUROBEK MULUTMU ITU ! SIAPA YANG KAMU BILANG MONSTER ?”


Jin Hee langsung menunjuk Suh Jin, dia tampaknya memberitahu Yang Woo kalau seperti itulah gaya Suh Jin saat menjambak rambutnya dulu.


“Robek apa ? Basi sekali ! dasar wanita vulgar !”


Joon Sang seketika bereaksi, “Apa ? Vulgar ? Hah ! Hya...kesinilah, bodoh ! Aku ingin mengoyak mulutmu terlebih dahulu. Kemarilah !!”


Min Hyuk menantang, dia menyeruduk dada Joon Sang sambil berkata, “Ayolah ! Koyak saja !”

Joon Sang tak tahan lagi, dia menjambak rambut Min Hyuk sembari berucap, “Hya ! Aku tidak bisa mengoyak mulutmu jika tidak kelihatan !”. Joon Sang lanjut memelintir bibir Min Hyuk.


Min Hyuk sontak memukulkan dahinya ke wajah Joon Sang. Joon Sang terjerembab di sofa, Suh Jin kepanikan menghampiri suaminya.

Joon Sang merabai bibirnya, dia melihat darah ditangannya.


Sue Lim dan Chi Young sama – sama tercengang.


Yang Woo cemas, dia berniat mendekati sang senior tapi Jin Hee mengunci tubuhnya di sofa, “Jangan ikut campur !!!”

“Hya dia berdarah !”

“Sampai kapan kamu harus menjilatnya ?”

“Aku tidak menjilat”


Seung Hye menatap kagum Min Hyuk dengan mata berbinar – binar.


Suh Jin kesal melihat suaminya terluka, dia langsung memberikan serangan dadakan pada Min Hyuk. Min Hyuk terjatuh di sofa. Suh Jin lanjut memukulinya.


Seung Hye gemas melihat Suh Jin menganiyaya Min Hyuk, dia balas menjatuhkan Suh Jin ke sofa sementara Min Hyuk berhasil bangkit.


Min Hyuk dan Joon sang juga saling adu serang, Chi Young tak bisa menengahi mereka.

Yang Woo yang ingin menyelamatkan Joon Sang masih tertahan oleh apitan Jin Hee.


Joon Sang dan Min Hyuk sama – sama terjatuh di lantai. Min Hyuk menyuruh Joon Sang melepas kacamatanya.

“Tidak !!!”

“Lepas !”

“Tidak mau !!!”


“Dasar br*ngs*k !!!”, umpat Min Hyuk sambil menarik jenggot Joon Sang, “Lepaskan ! Ayo lepaskan !” 

Joon Sang mengeluh kesakitan.


Suh Jin yang tersudutkan menjambak rambut Seung Hye.


Sue Lim menatap Jin Hee – Yang Woo, Joon Sang – Min Hyuk, dan Seung Hye – Suh Jin secara bergantian.


Sue Lim habis kesabaran, dia melemparkan bantal sofa ke lantai, “HENTIKAN !!!!!”, teriaknya membuat semua orang sontak berhenti bertikai.


Sue Lim penuh emosional berkata, “Apa yang kalian lakukan ? Anak itu sudah meninggal ! SEORANG ANAK YANG HIDUP BERSAMA KITA KINI SUDAH MENINGGAL ! Dia sendirian, tanpa keluarga, dan kini sudah meninggal ! Apa kalian tidak ada yang peduli ?”

Chi Young mengimbuhkan, “Apa gunanya saat orang dewasa tidak bersikap dewasa ?” Chi Young kemudian mengajak Sue Lim pulang.


Sepeninggalan Sue Lim dan Chi Young Jin Hee berujar sembari menatap Suh Jin dan Joon Sang, “Ini benar – benar menyebalkan ! Aku tidak tahan lagi. Yeobo, berdirilah ! Kita pulang !” 


Jin Hee pergi tanpa menunggu jawaban sang suami, tapi dia mendadak berhenti setelah beberapa langkah berjalan. Jin Hee berbalik, dia berucap pada Seung Hye, “Eonni...Kamu benar. Yeh Suh dan Hye Na memang saling membenci. Kemarin aku melihat mereka bertengkar”. Jin Hee lalu permisi pulang Yang Woo mengikutinya.


Perkataan Jin Hee membuat Suh Jin diselimuti kecemasan.


Setibanya di rumah, Yang Woo mengingatkan jika dia sudah pernah bilang agar Jin hee jangan pernah katakan apa pun. Jin Hee tak menanggapi sang suami dia duduk, Yang Woo ikutan.

Yang Woo bertanya – tanya lebingungan kini bagaimana ia harus menghadapi Joon Sang.

Jin Hee mengomel, “Aku tidak tahan lagi melihat sikap atasanmu itu ! Dia yang menyebabkan semua ini terjadi ! Bisa – bisanya dia punya anak di luar nikah dan malah menyalahkan anak di luar nikahnya itu ?!”


Yang Woo berucap halus, dia memberitahu Jin Hee jika dari yang ia perhatikan, Kepala Kang tidak tahu bahwa Hye Na itu anaknya.

Jin Hee terperangah, “Dia tidak tahu ? Padahal Hye Na itu darah dagingnya ! Bagaimana dia bisa tidak tahu ?!”

Yang Woo menjawab gelagapan, “Kamu tahu..pria tidak selalu tahu..........A sudahlah”


Jin Hee mendengus sebelum akhirnya menggerutukan ejekan Suh Jin, “Apa ? Malas mendidik ? Seharusnya aku koyak mulut Kwak Mi Hyang itu !! Aku bisa saja membocorkan soal pertengkaran itu dan menghancurkan Yeh Suh selamanya ?!”


Yang Woo mengingatkan kalau itu langkah yang berbahaya. Dia lanjut membela Yeh Suh karena meski mereka bertengkar, menurutnya mustahil jika Yeh Suh membunuh Hye Na. Dia melarang Jin Hee mengambil kesimpulan, Yang Woo menekankan pokoknya jangan berani – beraninya Jin Hee ambil kesimpulan.

“Anak di luar pernikahan dan Yeh Suh juga ? Aigoo,, takdir yang menyedihkan. Sebaiknya kuungkap saja ? Kuceritakan saja pada orang – orang ?”, gumam Jin Hee yang terlihat tersiksa karena memendam gosip.


Yang Woo langsung membuat gerakan tangan menresleting mulut mengisyaratkan supaya Jin Hee menjaga rahasia ini baik – baik.

Jin Hee menirukan gerakan tangan Yang Woo.


Suh Jin mondar – mandir di ruang rias, ucapan Jin  Hee membayanginya, “Eonni benar. Yeh Suh dan Hye Na memang saling membenci. Kemarin aku melihat mereka bertengkar”


Suh Jin lanjut mengingat penuturan Yeh Suh yang berkata jika Hye Na bilang akan mengunggah bahwa dia anak ayah di laman situs sekolah.

Suh Jin membekam mulutnya yang terperangah, dia kemudian berlari.


Jin Hee masuk ke selimut hendak tidur tepat saat bel rumahnya berbunyi. Jin Hee bergumam keheranan, “Siapa yang datang semalam ini ?”


Jin Hee membuka pintu untuk mengintip si tamu, dia berjalan menghampiri Suh Jin yang tadi membunyikan bel. Jin Hee bertanya kenapa eonni datang semalam ini.


Suh Jin detik itu juga meraih tangan Jin Hee yang tersembunyi di kantong mantel, “Jin Hee yaaa”

Jin Hee sontak mengibaskan tangannya, “Apa – apaan ini ?!”, tanyanya ketus.


Suh Jin memasang wajah memelas, “Jin Hee yaa, tolong aku”

Jin Hee mendengus. Suh Jin meminta maaf berulang kali, “Maafkan aku. Maafkan atas semuanya. Maaf karena kubilang kamu lemah”


Suh Jin mengingat semua kejahatannya, “Aku juga ingin meminta maaf karena pernah menjambakmu. Aku juga minta maaf sudah menuangkan sirup ke wajahmu”, ujarnya penuh penyesalan.

“Tidak bisa minta maaf lebih cepat ? Permintaan maaf ditolak !”


Jin Hee hendak masuk rumah, Suh Jin menarik tangannya, “Jin Hee, aku harus bagaimana ? Aku harus apa agar aku dimaafkan ? Berlutut ? Aku harus berlutut ?”


Jin Hee menghempaskan tangannya untuk melepaskan pegangan Suh Jin, dia makin mengomel, “Astagaa, kenapa kamu seperti ini ? Ini tidak akan mengubah apa pun ! Aku tidak tahu bagaimana caramu menjalani hidup, tapi yang pasti aku tidak bermuka dua ! Aku punya mata, telinga, dan mulut ! Mana mungkin aku tidak mengatakan apa yang kulihat dan yang kudengar ?!!”

“Jin Hee yaaa, kumohon”

Jin Hee menghela nafas sebelum akhirnya berucap, “Aigooo, sebenarnya aku tidak memaafkanmu karena menjambakku dan menuang sirup ke wajahku, tapi dikritik karena lemah itulah yang paling menggangguku ! Beraninya kamu mengatakan hal itu kepadaku ?!!!!”


Suh Jin mengangguk - angguk, “Maaf. Aku benar – benar minta maaf. Semua ini salahku”. Suh Jin menggosok – gosok dua telapak tangannya, “Aku memohon padamu, Jin Hee yaaa. Maafkan aku ya ?”

Jin Hee akhirnya luluh, dia menyuruh Suh Jin masuk dengan alasan di sini dingin.


Suh Jin yang sudah duduk di ruang tamu menjelaskan jika Yeh Suh memang bisa serakah soal nilai pelajaran, tapi anak itu bukan pendendam, “Pelatih Kim bilang mental Yeh Suh sangat lemah. Yeh Suh sedang mendengarkan kuliah fisika daring saat Hye Na jatuh. Kami punya catatan masuk ke laman daring itu”


Jin Hee dengan nada bicara yang lebih lembut berkata, “Aku mengerti. Aku sangat mengenal Yeh Suh. Aku tidak bisa mengerem ucapanku karena aku marah”

Suh Jin menghela nafas, dia berujar memang tidak baik mengatakan ini pada seseorang yang sudah tewas, tapi Yeh Suh dan dirinya selama ini sangat stress.

Jin Hee menatap Suh Jin kasihan, dia berucap, “Tentu saja kalian pasti stress. Dia tinggal di rumahmu meski tahu bahwa Prof Kang itu ayah kandungnya”


“Aku memohon padanya untuk merahasiakan soal ini sampai Yeh Suh diterima kuliah”

“Semua ini pasti membuatmu gila. Berat badanmu turun banyak”


Suh Jin tersenyum getir sambil memegangi pipinya. Dia lalu memberitahu jika Yeh Suh appa tidak tahu Hye Na itu putrinya, “Itu hanya kesalahan di masa mudanya, dan dia bahkan tidak ingat soal itu. Aku merahasiakan soal Hye Na dari Yeh Suh appa karena aku takut Yeh Suh tidak fokus jika ayahnya tahu”


“Omoomo, jadi kamu belum memberi tahu Yeh Suh appa soal ini ? Karena takut mengacaukan pikiran Yeh Suh ?”

Suh Jin mengangguk membuat Jin Hee mengutarakan kesalutannya, “Jika itu aku, akan kutarik kerah suamiku dan kusiksa dia !”


Suh Jin meruntuki dirinya bodoh, seharusnya dia mengatakan masalah Hye Na pada Yeh Suh appa, “Anak malang itu....... Dia meninggal sebelum bisa memanggilnya ayah”, ucapnya dengan suara bergetar.

“Aigoo, Suh Jin eonni. Kamu memang berhati lembut”


Suh Jin menggeser duduknya mendekati Jin Hee, dia kemudian menggenggam tangan Jin Hee sambil berkata, “Aku juga sering menyakiti perasaanmu, bukan ?”


Jin Hee berucap sedih, “Bukan kamu saja yang salah. Aku juga sengaja memancingmu. Aku tidak tahu yang sudah kamu lalui selama ini. Maafkan aku eonni”

Suh Jin tersenyum, dia menepuk – nepuk tangan Jin Hee lalu kembali menggenggamnya.


EmoticonEmoticon