Minggu, April 28, 2019

Sky Castle Episode 17 Part 1


Suh Jin meninggalkan suaminya di tangga setelah dia menegaskan dengan suara bergetar jika Hye Na adalah anak Joon Sang. 

Joon Sang mengikuti Suh Jin ke kamar.




Joon Sang yang masih syok bertanya dari mana Suh Jin tahu hal itu. Suh Jin berbalik, “Di kamar Hye Na, aku menemukan fotomu dan Kim Eun Hye. Dia tahu pasti bahwa kamu ayahnya dan sengaja untuk tinggal di rumah kita”


“Kamu sering berkata padaku bahwa dia menikah dengan orang lain dan sudah punya anak darinya ! Dan kini, kamu bilang Hye Na putriku ?”


Suh Jin mengamuk, “Saat itu aku benar – benar tidak tahu ! Aku tidak mengira dia kembali begitu mudah saat dia mengandung anakmu !”

Joon Sang emosi, “Jika tidak tahu pasti, kenapa kamu berbohong bahwa dia punya anak dari orang lain ?”

“Aku bertemu dengannya di jalan, dia bersama seorang anak jadi aku anggap begitu !”

“Kamu pasti melakukan tes DNA, lalu setelah tahu bahwa dia putriku, kamu menekannya agar dia merahasiakannya dariku !”


Suh Jin mengeluarkan semua kemarahannya, “Kamu tidak bisa berpikir rasanya menjaga anakmu ? Anak kurang ajar itu sengaja memberiku masalah besar ! Dia juga terus membuat Yeh Suh kesal !”

“SEHARUSNYA KAMU MEMBERITAHUKU !”, sentak Joon Sang. Joon Sang melanjutkan ucapannya dengan suara parau karena kesedihannya, “Kenapa kamu terus menyembunyikan hal seperti ini dariku ?”. Joon Sang kembali menyentak, dia berujar seharusnya Suh Jin memberitahukan masalah ini lebih dulu padanya.


Suh Jin membela diri, Suh Jin berkata jika dia memberitahukan lebih awal pada Joon sang maka semuanya akan kacau, “Kamu tidak akan menahan perasaanmu demi anak – anak, dan Yeh Suh sudah di tingkat akhir !”


Joon Sang jengah karena Universitas lagi yang dibahas, “Itu hanya yang kamu pikirkan ! Kamu pasti tidak peduli soal Hye Na” Suh Jin menghela nafas, Joon Sang melanjutkan, “Aku tahu. Aku tidak perlu melihat perlakuanmu padanya. Pasti kamu sangat kejam dan kasar padanya. Itu sebabnya dia tidak bisa memanggilku ayah sampai akhir hidupnya. Setidaknya kamu bisa memberitahuku di rumah sakit !”


Suh Jin menaikkan suaranya, dia mengingatkan jika Joon Sang sendiri yang menyebut Hye Na pengganggu, “Kamu yang bilang seharusnya aku tidak bawa dia ke rumah, bukan ?”


Joon Sang terdiam karena menyadari kesalahannya, perasaannya benar – benar hancur. Suara Suh Jin melemah, “Apa jawabanmu saat aku mengajakmu ke pemakaman Hye Na ? Kamulah yang mengeluarkannya dari ruang operasi demi menyelamatkan cucu Presdir rumah sakit. Kamu sendiri.....yang membunuh Hye Na”


Suh Jin meninggalkan Joon Sang. Suh Jin menutup pintu kamar, dia berdiam diri di sana untuk menstabilkan emosinya.


Joon Sang masih belum berubah posisi, dia menangis. 

Joon Sang tak kuat berdiri lagi, dia mendudukkan diri di ranjang. Joon Sang teringat momen saat makan bersama, Hye Na membahas Pulau Seonjae tapi Joon Sang malah memberikan tanggapan dingin sehingga membuat Hye Na beraut sedih.


Joon Sang makin terisak, dia lanjut mengingat ketika Eun Hye pertama kali menghubunginya untuk minta tolong namun dia menjawab kalau ini panggilan salah sambung sebelum akhirnya memutus panggilan.


Joon Sang mengingat perdebatannya dengan Chi Young di mana saat itu dia kekeh memerintah Chi Young untuk mengoperasi cucu Presdir. Joon Sang juga teringat tatapan Hye Na dan usahannya untuk mengatakan kata ayah serta ketika Hye Na meneteskan air mata.


Tangisan Joon Sang makin menjadi. 


Suh Jin yang masih berdiam diri di balik pintu terenyuh mendengar suara kesedihan suaminya. Tatapan Suh Jin mendadak berubah marah, dia lalu mempercepat langkahnya.


Yeh Bin membuka tutup flashdisk serangga.


Suh Jin masuk kamar Yeh Bin, dia tiba – tiba tertegun karena dengan jelas mendengar suara percakapan Pelatih Kim dan Hye Na.

“Kamu mengancamku ?”

“Sama sekali tidak. Aku hanya tanya...bagaimana Kang Yeh Suh bisa mendapat nilai sempurna”


Yeh Bin mendongak menatap sang ibu yang mematung semantara suara Hye Na masih terdengar, “Anda mencuri kertas ujian, bukan ?”


Suh Jin buru – buru menarik flashdisk serangga yang tertancap. Suh Jin menyodorkan flashdisk itu ke hadapan Yeh Bin sambil bertanya, “Yeh Bin aa, apa ini ?”

“Ini punya Hye Na eonni”

Suh Jin kaget, “Punya Hye Na ? Dari mana kamu dapatkan ini ?”

“Hye Na eonni dan aku awalnya akan menguburnya di kapsul waktu”


Suh Jin benar – benar tercengang, dia tanpa pikir panjang mengambil lalu mengobrak – abrik kotak putih Yeh Bin.


Yeh Bin polos bertanya apa maksudnya dengan mencuri kertas ujian, “Kang Yeh Suh mendapat nilai sempurna dengan mencuri kertas ujian ?” (Jadi Yeh Bin ini kalau di rumah manggil Yeh Suh bukan eonni tapi Kang Yeh Suh, kalau ada orang selain keluarganya dia baru manggil Yeh Suh eonni)


Suh Jin langsung berhenti mengobrak – abrik, dia mengomel, “Bicara omong kosong apa kamu ? Tentu saja Hye Na salah ! Mana mungkin kakakmu mencuri kertas ujian ?”


Yeh Bin terdiam, Suh Jin dengan wajah garang memperingatkan sambil menggerak – gerakkan tangannya yang memegangi flashbdisk, “Jika kamu bicara tentang hal yang belum pasti pada orang lain, kehidupan kakakmu akan hancur. Dia akan hancur. Jangan bicarakan hal ini pada siapa pun, mengerti ?”


Yeh Bin tak merespon, Suh Jin meneruskan amukannya, “Dan kenapa kamu memberi tahu ayahmu saat sudah ibu larang ? Ibu akan memberitahu begitu kakakmu sudah kuliah  ! Kenapa kamu tanya masih anggap ayahmu manusia atau tidak ? Kamu tidak tahu betapa hancurnya perasaan ayahmu !?”


Suh Jin yang jengkel keluar kamar Yeh Bin, dia menutup pintu dengan sedikit membanting sementara Yeh Bin diam tertunduk tampaknya dia menyesali perbuatannya.


Suh Jin menancapkan flashdisk Hye Na ke tablet dan beberapa detik kemudian terdengarlah suara Pelatih Kim.

“Kamu mengancamku ?”

Suh Jin mengedarkan pandangan takut – takut ada yang mendengarnya, dia kemudian fokus menatap layar tablet.

“Sama sekali tidak. Aku hanya bertanya bagaimana Kang Yeh Suh bisa mendapatkan nilai sempurna. Anda mencuri kertas ujian, bukan ?”

Flashback

Tanpa Pelatih Kim sadari, Hye Na meletakkan ponselnya yang tengah merekam audio di atas meja.

Hye Na memberitahu Pelatih Kim kalau dia pernah masuk ke kamar Yeh Suh sebelum ujian akhir dan melihat beberapa halaman catatan dari Pelatih Kim untuk Yeh Suh, “Anda mengubah angka, kata dan menambah beberapa soal untuk menutupinya. Sepertinya Yeh Suh yakin semua soal bayangan itu seratus persen tepat karena begitu mempercayai anda. Siapa orangnya ? Siapa di sekolah kami yang menjadi antek anda ?”


“Apa kamu...tidak takut pada apa pun ?”

Hye Na menjawab santai, “Mana mungkin ? Aku takut karena tidak punya uang. Aku takut karena tidak punya rumah. Dan aku takut karena tidak punya ibu. Ada banyak yang kutakuti”


Pelatih Kim menimpali tak kalah tenang, dia menebak Hye Na mungkin juga takut ayahnya tidak akan mengenalinya sebagai anak.

Hye Na menatap malas Pelatih Kim, dia memilih tak merespon. Pelatih Kim bertanya apa yang Hye Na inginkan.


“Pastikan....Kang Yeh Suh gagal mendaftar Kedokteran UNS. Aku akan lolos dengan usahaku sendiri, anda cukup menggagalkannya”

Flashback End

Suara rekaman Hye Na : Anda sudah tahu bahwa aku putri Dokter Kang, bukan ? Jika anda pikirkan baik – baik, kami ini bersaudari.

Flashback

Hye Na : Jadi, aku tidak boleh terlalu keras padanya. Lagipula, Yeh Suh tidak tahu apa pun.


Pelatih Kim mengangguk – angguk. Pelatih Kim bertanya apa Hye Na yakin tidak takut ayahnya akan membencinya jika dia tahu Hye Na mengadukan Yeh Suh, “Pikirmu ayah dan nenekmu akan menerimamu sebagai keluarga jika kamu masuk Kedokteran UNS dan bukan Yeh Suh ? Begitu ?”


Hye Na langsung membalikkan wajahnya menghadap Pelatih Yeh Suh itu, “Ya. Anda benar”, ujarnya optimis. Hye Na mengimbuhkan, “Aku akan masuk Kedokteran UNS tanpa koordinator ujian dan membuktikan bahwa aku lebih hebat dari Kang Yeh Suh dan bahwa ibuku lebih baik dari ibunya Yeh Suh !”

“Bagaimana kalau aku menolak ?”


Hye Na menghela nafas sambil kembali menyandarkan kepalanya ke kursi. Hye Na menimpali tenang, “Kantor Pusat Pengaduan Pendidikan dan Pusat Layanan Pendidikan. Aku bisa mengadukanmu dengan menelepon atau mengirim surel. Aa...Dan  jika kuunggah di laman situs sekolah kami tentang bocornya ujian kami, seseorang di sekolah pasti akan mencari tahu. Tapi lebih baik kulaporkan saja ke Kantor Pendidikan”. Hye Na menyeringai, dia lalu berkata “Dengan begitu antek anda akan sangat ketakutan”


Pelatih Kim tersenyum, dia memuji Hye Na manis sekali. Hye Na menatap Pelatih Kim, dia memperingatkan jika tidak ada jawaban dalam tiga hari, ia akan menyerahkan soal bayangan Pelatih Kim untuk Yeh Suh termasuk soal ujian akhir sekolah SMA Shina sebagai bukti.


Pelatih Kim mengecek jamnya, dengan santai dia mempersilahkan Hye Na keluar.


Hye Na memutar matanya kesal, dia beranjak tanpa lupa membawa ponselnya di meja dan tasnya di kursi yang sedari tadi dia duduki, di saat itulah gantungan burung nuri terpelas dari tas Hye Na.

Flashback End

Suh Jin cepat – cepat ke kamar Yeh Suh. Dia menekan saklar lampu lalu menyibaki stopmap – stopmap di rak. Suh Jin mengambil stopmap berlabel ‘SMA Shina, Soal Ujian Tingkat Satu’ dan soal bayangan Pelatih Kim yang berjudul ‘Ujian Akhir Semester Kedua, Soal Bayangan’


Suh Jin mencocokkan  satu persatu soal ujian matematika Yeh Suh dengan soal pemberian Pelatih Kim. Suh Jin benar – benar syok karena soal – soalnya memang sama. 


Suh Jin mondar – mandir tak tentu arah saking kalutnya sembari menggerutu marah, “Astaga, dasar perempuan biadab ! Begtu cara dia meningkatkan nilai putriku ? Jina Yeh Suh ketahuan, hidupnya akan kacau”.

Suh Jin berhenti berjalan, dia bergumam, “Jadi, apa Kim Joo Young...yang membunuh Hye Na ?”


Di ruangannya Pelatih Kim mengetikkan surel pada seseorang.

‘Stasiun Dogok, Pintu Keluar Tiga, Rubanah tingkat dua, Loker 12 pw135794’


Pelatih Kim merapatkan jari – jarinya setelah mengirim surel itu.


Tampak tangan seseorang tengah memasukkan sandi sesuai instruksi Pelatih Kim.


Lampu merah pada loker 12 berkedip – kedip menandakan kunci pintu telah terbuka.


In Gyu yang berpakaian serba hitam sambil mengenakan topi membuka pintu loket itu. Dia mengecek bendelan – bendelan uang di dalam tas hitam yang tersimpan di sana.


Pelatih Jo tepat bersembunyi di belakangnya. Dia diam – diam memotreti In Gyu.


Sue Lim yang tengah berlari hendak menuju ruangan Pelatih Kim berpapasan dengan Yeh Suh yang berjalan lambat keluar toilet sambil menatap gantungan Hye Na.

Sue Lim menghentikan larinya, dia menyapa Yeh Suh, dia melihat gantungan di tangan Yeh Suh. Yeh Suh buru – buru menyembunyikan benda itu dibalik punggungnya.


“Yeh Suh yaa...Itu milih Hye Na, bukan ?”. Sue Lim maju selangkah mendekati Yeh Suh, “Apa Hye Na datang ke sini ?”

Yeh Suh menjawab ketus, “Tidak tahu ! Mana mungkin aku tahu !”


Yeh Suh berniat pergi, Sue Lim menghentikannya. Sue Lim berkata kalau barang di tangan Yeh Suh itu ada di tasnya Hye Na.

Yeh Suh masih bersikap dingin, “Tidak, ini milikku ! Aku juga punya gantungan kunci yang sama !”

Yeh Suh akhirnya benar – benar beranjak.


Ternyata pada saat itu Sue Lim masih tak melepaskan Yeh Suh, dia mengejar Yeh Suh sampai ke lift.

“Yeh Suh yaa, kita bicara dulu”, pinta Sue Lim dan Yeh Suh mengabaikannya, dia langsung menekan tombol untuk menutup pintu lift.


Yeh Suh menatap dirinya melalui pantulan pintu lift sebelum akhirnya dia memandangi gantungan burung Hye Na.


Sue Lim tak punya pilihan lain, dia mempercepat larinya meninggalkan lift


EmoticonEmoticon