Senin, April 29, 2019

Sky Castle Episode 17 Part 5


Suh Jin masuk ke kamar rias. kesedihan dan rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya. 


Yeh Suh duduk menunduk di meja belajar. Dia menangis.

Yeh Suh cepat – cepat menyeka air matanya lalu bergegas membuka buku saat terdengar suara ketukan pintu.


Suh Jin masuk kamar sambil metenteng nampan, “Kamu pasti lapar. Makanlah ini !”

Yeh Suh melirik sekilas makanannya, dia kemudian mengangguk. Suh Jin tak banyak berkata lagi, dia pergi.


Suh Jin ternyata tak benar – benar beranjak, dia mengintip Yeh Suh dari jendela. Suh Jin tampaknya mengetahui kesedihan Yeh Suh.


Esoknya, Seung Hye menuangkan minuman untuk dua tamunya, dia lalu berkata, “Aku meminta kalian datang untuk membahas sesuatu”

Jin Hee : Mau membahas soal apa ?


Seung Hye menimpali sembari menatap Suh Jin yang tengah menyeduh minumannya, “Bukankah seharusnya kita juga harus mendatangi Woo Joo ?”

Jin Hee menyahut, dia membenarkan, setidaknya sekali saja, “Kita bilang padanya kita tahu bukan dia pelakunya dan semua penghuni Castle percaya kepadanya. Ucapan itu akan menghiburnya bukan ?”


Seung Hye memberitahu jika waktu kunjungan hanya 10 menit per hari, “Aku takut waktu kunjungan orang tuanya berkurang karena kita tapi aku sudah bilang pada ibunya. Dia bilang kedatangan kita akan memberinya dukungan moral. Ibunya sangat sabar”


Jin Hee bertanya kapan Suh Jin bisa ke sana. Suh Jin menyerahkan pemilihan waktunya pada Jin Hee dan Seung Hye, nanti ia tinggal mencocokkan waktunya..


Tiga ajumma menoleh ke satu arah karena mendengar bunyi pencetan kode keamanan.


Min Hyuk muncul, dia memanggil lemah sang istri. Seung Hye segera menghampirinya.

Jin Hee mendadak kegirangan, “Astaga, waktunya tepat. Ada yang mau kutanyakan padanya”, ujarnya sebelum akhirnya berjalan mendekati Min Hyuk. Suh Jin membuntuti kawan comelnya itu.


Seung Hye bertanya kenapa Min Hyuk pulang cepat. Min Hyuk menjawab lesu, “Sepertinya aku sakit. Seluruh tubuhku nyeri”


Jin Hee dengan ceria memanggil nama Prof Cha, “Prof Cha, kamu sedang tidak enak badan ?”


Min Hyuk tersenyum, “Ahhh....Ya...aku........”. Raut Min Hyuk mendadak menegang melihat Suh Jin. Min Hyuk menggernyitkan mata mengingat pertengkaran dirumahnya, saat Suh Jin mengancam akan merobek mulut Seung Hye dan dia malah mengatai Suh Jin vulgar.


Min Hyuk tertawa canggung teringat itu semua.  Dia kemudian mengucapkan halo pada Suh Jin saking salah tingkahnya padahal Suh Jin biasa - biasa aja. Min Hyuk lanjut berkata, “Jangan hiraukan aku. Lanjutkan saja obrolan kalian. Aku akan berbaring karena tidak enak badan”


Suara Jin Hee menghentikan Min Hyuk yang hendak beranjak, “Astagaa... sayang sekali. Ada yang ingin kutanyakan padamu”


Min Hyuk sebenarnya kesal karena kecerewetan Jin Hee tapi dia memasang senyum palsunya sambil mempersilahkan Jin Hee bertanya.


Jin Hee menujuk piramida jumbo, “Kamu tahu....piramida ini....Kenapa kamu menaruhnya di ruang keluarga ? Seung Hye bilang kamu yang menaruhnya di sana tapi tidak cocok dengan dekorasinya. Ruang tamumu jadi terlihat jelek. NAMUNNN...kamu yang menaruhnya di sana, jadi pasti ada alasan penting. Suh Jin eonni, kamu juga penasaran bukan ?”


Suh Jin tersenyum mengiyakan. (yang bikin lucu di part ini mendadak ada suara khas padang pasirnya :D)


Min Hyuk tersenyum lebar, “Akan kujelaskan karena kalian sangat penasaran”


Jin Hee sontak mengangkat rambutnya yang menutupi telinga bersiap mendengarkan penuturan Min Hyuk.


Daannn... Pertemuan tadi menyebabkan Jin Hee menyipitkan mata menirukan wajah Min Hyuk sambil berujar menirukan suara Min Hyuk, “Kamu tidak bisa mengindari piramida selama hidup di dunia ini”


Yang Woo keheranan menatap sang istri.


Ternyata Jin Hee, Soo Han, dan Yang Woo kini sedang duduk berdempetan di depan piramida mini. Jin Hee melanjutkan, “Itulah ucapan orang sukses. Naak, dari piramida ini, kamu ingin berada di mana ? Di bawah atau di atas ?”, tanyanya pada Soo Han dengan sangat lambat seolah tengah menuturi anak TK.


Soo Han menjawab di atas sembari menunjuk pucuk piramida dengan ogah – ogahan.

Jin Hee dan Yang Woo senang. Jin Hee memuji Soo Han yang sangat pintar.


Jin Hee lantas mengambil lalu menempelkan foto Soo Han di bagian puncak piramid, “Jadi bagaimana caranya agar kamu berada di sana ?”


“Aku harus terlahir dari orang tua yang baik”

Yang Woo : Hya, kamu memang lahir dari orang tua yang hebat. Syarat itu sudah terpenuhi, lalu apa berikutnya ? Kamu harus apa  untuk bisa berada di atas ?

“Aku harus bekerja keras dan hidup dengan baik”

Jin Hee : Benar. Untuk bisa hidup dengan baik....sebagai murid sekolah.... bagaimana caramu bekerja keras ?


Soo Han sejenak berpikir, dia lalu menjawab, “Aku harus cukup makan”

Yang Woo : Benar

“Cukup istirahat”

Yang Woo : Benar

“Dan lancar BAB”


Yang Woo seketika terdiam.

“BAB ? Sayang, di mana tongkatnya ?”, tanya Jin Hee.


Soo Han langsung mengalihkan topik, “Tapi ayah, aku dengar...mumi bukan ditempatkan di atas piramida. Biasanya ada di sekitaran sini, di tengah bangunan”


“Sungguh ? Benarkah ? Selama ini ayah kira ada di atas”, ucap Yang Woo sambil menunjuk puncak piramid.


Soo Han berujar penuh penekanan sambil menatap ibunya, “Bukan. Biasanya ada di sini, artinya di sinilah titik utamanya ! Bagian tengah adalah bagian yang terbaik. Itu sebabnya mumi disimpan di sini”


Soo Han dengan tenangnya beranjak meninggalkan kedua orang tuanya, “Bagian tengah itu yang terbaik !!!”, tegasnya.


Jin Hee sesaat berpikir, dia kemudian teringat kalau bukan itu yang Pror Cha bilang.


Yang Woo sependapat dengan Soo Han jika bagian tengah itu paling nyaman. Yang Woo tersenyum sembari menunjuk arah perginya sang putra, dia memuji Soo Han sangat bijak.

Jin Hee tersenyum, dia bertanya di mana bagian tengah tubuh Yang Woo. 


Yang Woo dengan sumringah menunjukkan punggungnya.

“Mau kucopot tulang belakangmu ?!”, amuk Jin Hee membuat Yang Woo memasang ekspresi waswas.


Yeh Bin berbaring, dia fokus menonton videonya bersama Hye Na di mana saat itu dirinya malu – malu tidak ingin direkam.

Hye Na : Astagaaa....kenapa ? 

Yeh Bin : Jangan !

Hye Na : Apa impianmu ?

Yeh Bin : Berhentilah merekam !

Hye Na : Kenapa kamu selalu mengorok ? hahahaha

Yeh Bin tersenyum sekaligus menangis melihat rekaman itu.

Yeh Bin : Ayolah, jangan berbohong........


Yeh Suh tiba – tiba membuka pintu kamar Yeh Bin. Yeh Bin cepat – cepat mematikan videonya, dia juga bergegas menghapus air matanya.


Yeh Suh bertanya ketus, “Hya...kamu punya nomor ponsel ibunya Woo Joo, bukan ?”

“Kenapa memangnya ?”

“Berikan nomornya !”

Yeh Bin ngotot bertanya untuk apa.

Yeh Suh menyentak, “Berikan saja !”


Chi Young memberitahu Pengacara yang saat ini ada di rumahnya jika In Gyu tiba – tiba berhenti bekerja, jadi ia terus berpikir ada yang mencurigakan dari orang itu.

Pengacara : Investigasi juga mengungkapkan bahwa kamera dasbor itu berasal dari mobil In Gyu.. Itu bukan tempat dia biasanya parkir. Menurutku aneh sekali jika kebetulan dia parkir di sana saat itu.


Sue Lim bertanya, jadi In Gyu kemungkinan terlibat ?. Pengacara tak menjawab, dia berkata jika saat ini prioritas mereka menemukan motif Kim Joo Young untuk membunuh Hye Na.

“Bagaimana cara kita menemukannya ?”, tanya Chi Young.


“Bukti bahwa Kim Joo Young bertemu dengan Hye Na,  hingga dia memiliki motif untuk membunuh Hye Na, itulah yang kita butuhkan”


“Gantungan kunci burung nuri....Aku melihat Yeh Suh memegang gantungan kunci itu. Tapi apa ibunya akan membolehkan kita menemuinya ?”


Chi Young menghela nafas, dia juga tidak yakin akan hal itu.


Terdengar suara getaran ponsel. Sue Lim mengecek ponselnya dan terdengarlah suara Yeh Suh seiring Sue Lim membaca pesan yang barusan masuk.

‘Ajumma, ini aku....Yeh Suh. Aku ingin mengunjungi Woo Joo. Boleh ?’


Sue Lim benar – benar terkejut, dia membeitahu Chi Young jika Yeh Suh ingin mengunjungi Woo Joo.

Chi Young terperangah, “Sungguh ?”

Sue Lim mengiyakan.


Adegan beralih. Yeh Suh seketika menutup mulutnya melihat Woo Joo yang muncul sembari mengenakan baju tahanan. (Readers sekadar pengetahuan aja sih ini, jadi pas waktu kunjungan tahanan itu selalu ada satu penjaga yang bertugas mencatat semua percakapan tahanan dengan si pengunjung jadi mereka otomatis gak bisa bicara macam – macam. Tapi barangkali udah pada ada yang tahu, maaf gak bermaksud menggurui)


Woo Joo tersenyum, dia menyapa Yeh Suh, ibu, dan ayahnya sebelum akhirnya duduk. Sue Lim mengalihkan pandangannya, dia masih tidak kuat lama – lama melihati putranya.


Woo Joo mengucap terima kasih karena Yeh Suh sudah datang, “Tapi apa kamu punya waktu untuk ke sini ? Maksudku...aku tidak punya pilihan, tapi kamu harus belajar”

Yeh Suh tak sanggup bersuara, matanya berkaca - kaca

“Jangan cemaskan aku dan belajar keraslah. Kamu harus diterima di kampus impianmu”


Yeh Suh tak menimpali, air matanya menetes.


EmoticonEmoticon