Selasa, April 09, 2019

Sky Castle Episode 8 Part 5


Joon Sang tersinggung, “Mau tidak mau katamu ?”

Chi Young minta maaf jika ucapannya menyinggung Joon Sang tapi biasanya tulang belakang memang sembuh secara alami, “Operasi dilakukan untuk pasien yang kesakitan setiap harinya..”


Joon Sang menyela, dia menegaskan jika pasien menjalani operasi bukan hanya karena takut, tapi juga putus asa, “Mereka mempercayai dokter yang bisa menyembuhkan mereka. Akankah mereka mempercayai dokter yang bilang itu akan sembuh sendiri ?”

“Dokter Kang, jawab dengan jujur. Risiko kelumpuhan tanpa operasi dan pascaoperasi yang mana yang lebih tinggi ?”

Presdir Choi tampak menikmati perdebatan panas mereka.


Joon Sang tertawa, “Prof Hwang. Tidak..Maksudku...Direktur Ekseklusif. Tidakkah kamu tahu kita diharuskan menggunakan pengobatan yang tidak ditanggung oleh asuransi untuk menaikkan pergantian pasien ? Aku mati – matian mengoperasi para pasien agar rumah sakit mendapatkan uang dan kini kamu bilang aku berlebihan ? Mana yang harus kulakukan ?”, tanya Joon Sang pada Presdir.


Presdir tertawa canggung, dia lalu berkata, “Apa pentingnya itu ? Yang penting adalah cara kita menangani situasi ini......”

Joon Sang memotong karena sudah tahu dirinya tak akan mendapat pembelaan, “Maaf. Aku ada jadwal operasi”


Joon Sang pulang diselimuti kemarahan. Joon Sang melepaskan jas lalu memberikannya pada Suh Jin. Dia bertanya bagaimana pemilihan ketua osis itu.

Suh Jin menjawab santai sambil melipat jas, “Dia akan bertandem dengan Suh Joon. Tenang saja”


Apa janjinya ?”

“Bidet di semua toilet dan pemurni udara di semua 24 kelas”

“24 ?”

Suh Jin mengangguk.


Joon Sang menghela nafas berat, dia menyuruh Suh Jin menawarkan mereka 200. Tidak. Katakan bahwa semua siswa mendapatkannya untuk rumah mereka.

“Jika kita serahkan pada Kim Joo Young, Yeh Suh pasti terpilih. Tenang saja. Yeh Suh akan mengalahkan Woo Joo”


Soo Han memijat kaki sang ayah sementara Jin Hee mengompres punggung suaminya. Yang Woo menjadikan cerita Joon Sang di ruang Presdir sebagai bahan pergosipan. Jin Hee berpikir Joon Sang pasti marah besar.

“Sudah pasti”, timpali Yang Woo.

“Kini bagaimana ? Kamu tidak bisa menemui Prof Hwang” 


Soo Han bertanya pada ibunya tidak bisakah ayah Yeh Bin merawat ayah.

Yang Woo menjawab lemah, “Adeul..Ayahmu sudah putus asa. Aku mengirim 10 SMS kepadanya dan dia mengabaikan semuanya”


Jin Hee kaget, “10 SMS ?”

Yang Woo mengangguk – angguk.


Jin Hee geram, “Dia sok jual mahal. Dia pikir sehebat apa dia ? Aku akan membunuhnya untukmu ! Beraninya dia mengabaikan suamiku !”


Jin Hee turun ranjang, dia mengambil ponsel Yang Woo. Yang Woo mulai waswas, “Ada apa denganmu ? Apa yang akan kamu lakukan ?”

“Bahkan cacing menggeliat saat diinjak. Sampai kapan kamu akan merendahkan dirimu ?”


Yang Woo kepanikan, dia berusaha meraih ponselnya dan karena banyak gerak itulah punggungnya makin terasa sakit.


Jin Hee mengetikkan cepat jari – jarinya, “Baiklah ! Kirim !”

Jin Hee mengangkat tinggi ponsel Yang Woo, dia berkata jika pesannya sudah terkirim. Yang Woo benar – benar frustasi.


Jin Hee mengetikkan cepat jari – jarinya, “Baiklah ! Kirim !”

Jin Hee mengangkat tinggi ponsel Yang Woo, dia berkata jika pesannya sudah terkirim. Yang Woo benar – benar frustasi.


‘Hyeongnimku yang tercinta Aku mungkin bodoh, itu sebabnya aku membuat kesalahan besar. Andai istriku membutuhkan operasi, aku akan langsung membawanya kepadamu. Kenapa kamu tidak melihat betapa tulusnya aku ? YuYu (Emotikon menangis)’


Joon Sang melemparkan ponselnya. Suh Jin menyuruh Joon Sang melakukan operasi itu, “Dia hampir tidak bisa tidur karena rasa sakitnya”


Suh Jin mengambil ponsel Joon Sang lalu menyodorkannya ke hadapan sang suami. Joon Sang tak bergegas mengambilnya. Suh Jin lantas menyisipkan ponsel itu ke genggaman Joon Sang.

Joon Sang tersenyum menang.


Yang Woo memilih memejamkan mata sementara Jin Hee mengoceh di depan jendela sambil memegangi ponsel Yang Woo, “Dia tidak akan membalas, ya ? Baiklah, lihat saja siapa yang menang. Aku Short Shortnya Cheongdam-dong”


Pesan balasan yang ditunggu – tunggu akhirnya masuk. Jin Hee sontak histerik, “Ini Dia. Yeobo !! Dia membalas. Lihatlah ini. Bacalah. Dia membalas !!”


Yang Woo membaca pesan itu dengan bukaan mata sempit.

‘Tentukan tanggalnya. Mari kita obati punggungmu’


Mata Yang Woo langsung terbuka lebar. Dia terperangah.

“Dia akan mengoperasimu bukan ?”

Yang Woo mengangguk.


Jin Hee berjingkrak kegirangan. Dia lalu menulis pesan balasan. 

'Terima kasih hyeongnim. Kini tubuhku kuserahkan padamu'


Esoknya, Hye Na yang masih berada di RS Univ Joonam berkata agar Eun Hye tak cemas memikirkan biaya karena dia bekerja paruh waktu dan punya uang.

“Baiklah. Kamu seperti ayahmu, cerdas dan baik”

“Hentikan ibu... Kenapa ibu menyukai dia ? Dia mat* saat aku dilahirkan”


Eun Hye menasihati, dia melarang Hye Na membenci sang ayah karena hal terbaik dalam hidupnya adalah melahirkan Hye Na.

Hye Na tersenyum tipis. Eun Hye meneruskan bicara, “Andai ibu tidak bertemu dengan ayahmu, kamu tidak mungkin ada sekarang”


Hye Na mengucap terima kasih karena Eun Hye sudah melahirkannya. Eun Hye terharu, Hye Na mengucap air mata ibunya, dia lalu berucap, “Eomma. Lekas sembuhlah agar kita bisa ke Pulau Seonjae..”

“..Ibu bilang pernah ke sana bersama ayah dan menangkap bayi ikan buntal”


Eun Hye tersenyum, dia bercerita kalau ikan buntal berwarna kuning dan ukurannya sebesai biji bunga matahari. Ikan itu manis sekali, “Ayahmu telah belajar seumur hidupnya dan bahkan takut dengan ikan itu..”

“..Hye Na... Ayo kita ke Pulau Seonjae”

Hye Na mengangguk.


Eun Hye dan Hye Na terdiam dalam waktu lumayan lama, mereka hanya saling berpegangan tangan sambil menatap satu sama lain. Hye Na sesekali mengusap air mata ibunya.


Joon Sang dengan wajah sumringah berjalan sembari mententeng box pizza dan kantong plastik berisi soda.


Joon Sang mengintip Yeh Suh dan kawan – kawannya yang tengah melakukan kegiatan ekstrakurikuler.


Hye Na keluar dari minimart rumah sakit tepat  saat Joon Sang dan Yeh Suh sedang bercakap. Hye Na berhenti berjalan, dia mencuri dengar obrolan mereka.

Joon Sang bertanya bagaimana turnya, “Kamu bisa masuk ke sekolah medis ?”

Yeh Suh menyahut senang, “Emm, appa. Itu sangat cocok denganku”

Joon Sang dan Yeh Suh tertawa. Joon Sang lanjut menawarkan pizza untuk teman – teman Yeh Suh.

“Teman – teman mari makan”, ajak ramah Yeh Suh.

“Terima kasih”


Joon Sang menyuapi Yeh Suh. Hye Na memandang kebahagian mereka. 

Hye Na terlihat iri sekaligus sedih. 


Hye Na lalu menatap roti sederhana yang dia miliki.


Suh Jin kini tengah berada di kantor Pelatih Kim. Pelatih Kim memberitahu, satu – satunya cara untuk memastikan Yeh Suh akan terpilih adalah membuat Hye Na mundur dari pencalonan. Jika Hye Na mundur, Yeh Suh akan jadi kandidat tunggal, jadi pemilihan tidak diperlukan.

Suh Jin ragu jika Hye Na akan mengundurkan diri karena anak itu ambisius.


Pelatih Kim tersenyum, dia menyodorkan flashdisk pada Suh Jin.


Sesaat kemudian Suh Jin sudah ada di kediaman Do Hoon. Suh Jin bertanya kenapa Do Hoon tidak mencalonkan diri menjadi osis.

Ibu Do Hoon beralasan wali kelasnya juga menyarankan seperti itu tapi dia melarangnya, “Menjadi ketua kelas sudah cukup untuk menunjukkan kepemimpinannya, jadi untuk apa mencalonkan diri ? Nanti dia kelelahan dan tidak fokus belajar dan orang – orang akan mengkritik dia sebaik apa pun kinerjanya. Aku tidak mau membuatnya menderita hanya demi memuaskan hasratku”

“Ya ampun. Kurasa aku membuat putriku menderita”


Ibu Do Hyun menyindir pedas, “Suh Jin... Aku mengatakan ini karena peduli kepadamu. Kudengar semua orang bilang akan memilih Hye Na. Do Hoon bilang Yeh Suh tidak punya harapan untuk memenangi pemilihan itu”


Suh Jin tertawa, “Katanya dia tidak punya harapan ?”

Ibu Do Hoon mengiyakan.


“Kalau begitu, kamu bisa sedikit membantuku”

Ibu Do Hoon kebingungan, “Aku ? Bagaimana caranya ?”


“Kim Hye Na. Bisakah kamu membuatnya mundur dari pencalonan ? Kurasa kamu bisa melakukannya”

Ibu Do Hoon seketika mematung. Ibu Do Hoon pura – pura tak mengerti, dia bertanya bagaimana mungkin dirinya bisa membuat Hye Na mundur.


Suh Jin tak menjawab, dia menatap Ibu Do Hoon penuh makna. Ibu Do Hoon mengamuk untuk menitupi kegugupannya, “Aku tidak berurusan dengannya. Kenapa kamu memintaku melakukan itu ? Tidakkah kamu keterlaluan ? Kini kamu benar – benar jahat !”


Suh Jin menyerahkan flasdisk pemberiak Pelatih Kim.

Flashback

Pelatih Kim memerintah Pelatih Jo untuk mengawasi Kim Hye Na seharian penuh.


Adegan berjalan mundur, mulai dari Pelatih Kim menyodorkan flashdisk pada Suh Jin kemudian berlanjut ke Pelatih Jo yang memberikan flashdisk itu pada Pelatih Kim. 


Pelatih Jo menerima flashdisk itu dari seorang pelajar. Pelatih Jo memberikan imbalan uang sebagai gantinya.


Ternyata pada saat Do Hoon dan Hye Na tengah bertengkar murid sewaan Pelatih Jo berhasil mengabadikan momen itu.


EmoticonEmoticon