Sabtu, Mei 04, 2019

Sky Castle Episode 19 Part 5

Flashback

Suami Pelatih Kim mendorong Pelatih Kim hingga tubuh istrinya itu menatap dinding, “KAMU MENCOBA MEMBUNUHNYA ? KAMU INGIN MEMBUNUHNYA ?!!!!!”


Kay berada tidak jauh dari kedua orang tuanya yang tengah bertengkar. Kay sesekali menatap ayah dan ibunya, dia terus – terusan mengerjakan soal, rautnya tampak ketakutan.


Amarah Ayah Kay makin menjadi, “SEGERA HENTIKAN ! DIA BERUSAHA MENYESUAIKAN DIRI !”


Pelatih Kim mendorong keras suaminya, dia balas berteriak, “JANGAN KHAWATIR ! JANGAN IKUT CAMPUR !”


“Gangguan paniknya pasti karena stress ekstrem ! Bersaing melawan kaum Kaukasia yang 10 tahun lebih tua darinya PASTI MEMBUATNYA STRESS !!!!”


“DIA HARUS MENYESUAIKAN DIRI !!! DIA HARUS MELEWATI SEMUA INI ! KABAR SOAL DIA ANAK TERMUDA MENJADI MAHASISWI SUDAH ADA DI TELEVISI DAN KORAN ! Kamu ingin aku berhenti ? Aku tidak akan bisa. JIKA KITA BERHENTI SEKARANG, SEMUA AKAN MENJADI SIA – SIA !!”, teriak Pelatih Kim.


Kay mengusap air matanya sementara kedua orang tuanya masih saja bertengkar.

Ayah : Apa sebenarnya maumu ?

Pelatih Kim yang menangis sekali lagi menegaskan agar suaminya tak ikut campur, “Kumohon ! Urus saja urusanmu sendiri !”, teriaknya memekik.


Pelatih Kim melangkah hendak pergi. Suaminya memeganginya, “Ini karena Song Hee Ju, bukan ? Kamu marah karena dia menjadi dosen termuda. Kamu memanfaatkan Kay UNTUK MENGATASI RASA TIDAK NYAMANMU !”


Pelatih Kim mendorong suaminya untuk melepaskan cengramannya, “Terserah mau mau berpikir apa”

“Aku tidak mau kondisi Kay memburuk ! AKU INGIN KITA BERCERAI. KITA CERAI SAJA !”

“Baiklah. Tidak masalah. Kita bercerai. Tapi...aku tidak akan biarkan kamu mengambil Kay dariku ! Dia putriku...DIA ANAKKU !”


Rahang Ayah Kay mengeras menahan marah, dia tak mengeluarkan bantahan apa pun.


Pelatih Kim menoleh ke arah Kay yang menelungkupkan wajahnya ketakutan.

Flashback End

Kay menggeleng – geleng, dia berucap histeris, “Ibu....Jangan menangis ibu....Ibu jangan menangis. Aku akan belajar. Aku pasti akan belajar”


Kay detik itu juga kembali mencoreti kaca, “Aku akan belajar. Aku akan belajar”

Kay mendadak memukuli wajahnya berulang – ulang sebelum akhirnya dia melanjutkan menulis. 

Kay menatap ketakutan Pelatih Kim karena tak bisa menuliskan jawabannya di kaca


Pelatih Kim mengeraskan tangisnya, hal itu membuat Kay berjingkrak – jingkrat tak karuan, “Ibu jangan menangis !”. Kay semakin tak terkedali. Dia mencoba menyelesaikan jawabannya. Dia kepanikan, “Jika x adalah..............”. Kay kesulitan, dia menangis, “Aku akan belajar. Aku akan belajar sekarang”, gumamnya.


Pelatih Kay menghampiri Kay. Dia memegangi kedua lengan anaknya membuat Kay terdiam 

“Cukup. Sudah cukup. Kamu tidak perlu belajar, Kay. Hentikan. Kamu tidak perlu belajar”, ucap Pelatih Kim.

Kay menangis lagi, dia mengusap air mata ibunya, “Eomma, jangan menangis, kumohon”

Kay memeluk Pelatih Kim, “Eomma....Eomma....Ada apa ? Eomma juga sedang sedih ? Aku akan lebih baik lagi”


Pelatih Kim memberikan pelukan balasan, dia kemudian berucap dengan suara yang benar – benar serasa tercekat, “Eomma.....Eomma minta maaf....Eomma minta maaf. Maafkan eomma. Semua ini salah eomma”


Fokus Kay teralih. Kay tiba – tiba tertawa kegirangan, dia langsung melepaskan pelukannya, “Ada kari !!!!”, teriaknya.


Kay merangkak menghampiri si kari. Pelatih Kim seketika kalut, ”Kay !!! Kay !! Kau....Jangan ! Kay !”

Kay mengambil sendok.

“Jangan dimakan. Jangan. Kay !”

Pelatih Kim mencoba menarik Kay untuk menjauhkan anak itu dari makanan beracunnya tapi kepayahan sementara Kay hendak memasukkan sendokan nasi ke dalam mulutnya. Pelatih Kim akhirnya membuang sendok di tangan Kay, “Kay ! Sudah ibu bilang jangan dimakan !”, amuknya.


Kay sontak kehilangan kontrol, dia mengacak – acak semua barang yang ada di kamarnya, mulai dari membuangi selimut sampai mainannya yang ada di wadah kaca.

Pelatih Kim sekuat tenaga berusaha menahan Kay tapi kewalahan.


Kay mencakup nasi dengan tangannya. Pelatih Kim menghalangi niatan sang anak untuk memakan makanan berbahaya itu sampai dia terjatuh ke lantai.
.
Semua nasi yang diambil Kay tumpah, tapi Kay mengambil nasinya lagi, lagi dan lagi.


Beruntung makanan itu tak sedikit pun ada yang masuk ke mulut Kay hingga Pelatih Jo masuk ke kamar.

Pelatih Jo menyudutkan Kay ke lantai, dia mencoba menyadarkan anak itu.


Dua mobil detektif tiba di halaman depan rumah Kay.


Det Choi menunjukkan surat perintah penangkapan pada para bodyguard. Tapi orang – orang bawahan Pelatih Kim itu tetap tak membiarkan para detektif masuk. Para detektif terpaksa melakukan perlawanan.


Pelatih Kim mematung menatap kehisterisan putrinya yang tak kunjung reda.


Sue Lim dan Chi Young berdiam diri di depan tahanan tempat di mana anaknya berada.


Tidak lama kemudian orang yang ditunggu - tunggu muncul. Sue Lim langsung berlari ke arah Woo Joo lalu memeluknya. Woo Joo dan Sue Lim sama – sama menangis haru.


Chi Young menghampiri mereka.

“Appa.....”, panggil lirih Woo Joo sehingga membuat Sue Lim menyudahi pelukannya.

Chi Young gantian memeluk sang putra. Air matanya menetes.


Suh Jin menghampiri suaminya di tempat baca. Dia memberitahu jika Woo Joo sudah pulang.

“Sungguh ?”, tanya singkat Joon Sang. sebelum akhirnya dia berjalan mendekati Suh Jin.


Suh Jin berkata jika dia bisa pergi sendiri, “Toh ini salahku. Kamu tidak perlu ikut”

Joon Sang menimpali lembut, “Tidak. Kita pergi bersama. Ini juga salahku”


Woo Joo lahap memakan daging ayam yang menempel pada tulangnya.

Chi Young dan Sue Lim sama – sama tidak bisa melepaskan pandangan pada sang putra..


Woo Joo menyudahi bersantapnya, “Terima kasih makanannya”, ucapnya.


Sue Lim berkata jika Woo Joo harus menambah. Tanpa persetujuan sang anak, Sue Lim langsung mengambil mangkuk kosong Woo Joo untuk di isi lagi, “Kamu harus makan yang bergizi dan memulihkan fisikmu. Ibu membuat sepanci besar. Tambah sedikit yaaaa ?”

“Ya, kamu harus banyak makan”, sahut Chi Young.


Woo Joo terperangah melihat isi mangkuk yang baru saja di taruh Sue Lim di hadapannya, “Aigooo eomma, aku sudah kenyang. Di penjara pun aku makan dengan baik”


“Aigooo ? Benarkah ? Syukurlah”, ujar Sue Lim sambil mengelus rambut Woo Joo lalu menepuk – nepuk pundak sang anak.


“Ayah sudah menyuruhmu berolahraga. Kamu sudah berotot ?” 


Woo Joo mengangkat dua tangannya, “Lihatlah ! Lenganku terlihat keras bukan ?”

Sue Lim mencoba memeganginya, dia terperangah, “Keras seperti batu”, ucapnya tapi sedetik kemudian Sue Lim menggelitiki ketiak Woo Joo.


Woo Joo geli, Chi Young menegur istrinya, “Jangan begituuu”. Tapi pada akhirnya Chi Young ikutan menggelitiki putranya.

Tawa keluarga itu pecah sampai pada akhirnya terdengar suara bel.


Sue Lim dan Chi Young saling bertatapan. Chi Young memandang Woo Joo sekilas. Dia kemudian mengangguk lalu berkata, “Baiklah. Jangan cemas. Biarkan mereka masuk”


Sue Lim beranjak untuk membuka pintu. Woo Joo bertanya siapa yang datang.

Chi Young menjawab kalau itu adalah orang tua Yeh Suh, “Mereka dengar kamu sudah kembali dan mereka ingin datang”

Woo Joo langsung menunduk sedih. 


Chi Young meminta Woo Joo bersikap senyamannya, “ikuti kata hatimu. Jangan memaksakan dirimu untuk memaafkan mereka”

Woo Joo mengangkat wajahnya, dia tak menjawab.


Sue Lim, Suh Jin, dan Joon Sang saling melemparkan tundukan hormat. 

Suh Jin kemudian menanyakan keberadaan Woo Joo.

Sue Lim : Masuklah dulu. Aku akan memanggilnya.

Sue Lim melangkah masuk duluan tanpa menunggu jawaban Suh Jin. Suh Jin dan Joon Sang lantas mengikutinya.


Semua keluarga Hwang melangkah berbuntutan menuju ruang tamu untuk menemui Suh Jin dan Joon Sang. 

Woo Joo membungkuk sopan pada kedua orang tua Yeh Suh di hadapannya.


Sue Lim mempersilahkan Suh Jin dan Joon Sang duduk tapi dua orang itu malah berlutut di lantai.

Sue Lim sontak menutup mulutnya yang terperangah.

Suh Jin menangis, “Maafkan aku Woo Joo yaaa. Semua ini salah ahjumma.  Ahjumma sadar perbuatan ahjumma tidak bisa dimaafkan. Kami sadar betapa bertanya ini bagimu. Aku tidak bisa bicara demi Yeh Suh”


Sue Lim terenyuh melihat tangis kawannya. 


Joon Sang meneruskan perkataan sang istri, “Karena kertas ujian dari Kim Joo Young itu hasil curian. Yeh Suh.....bisa mendapatkan nilai sempurna saat ujian”

Chi Young dan Sue Lim sama – sama membuka mulut saking kagetnya. Joon Sang mengimbuhkan jika Hye Na mengetahui tentang bocornya kertas ujian itu, jadi Kim joo Young membunuh Hye Na.


Melihat suaminya kewalahan bicara karena menangis. Suh Jin pun mengambil alih memberikan penjelasan.

“Yeh Suh dan aku tahu dia mencuri kertas ujian itu. Meski aku tahu kamu bukan pelakunya...menguak kebenaran ini berarti....Yeh Suh akan mendapat nilai nol dan dikeluarkan. Seharusnya....Seharusnya aku sadar. Aku telah kehilangan akal sehatku”


“Woo Joo yaaa...Kami benar – benar minta maaf. Perbuatan kami tidak terampuni”. Joon Sang yang terisak lanjut menundukkan kepala sembari meminta maaf pada Chi Young dan Sue Lim, “Kami.....Kami sangat menyesal”


Keluarga Hwang  tak ada yang mengeluarkan respon.

Suh Jin berucap terbata – bata, “Woo Joo yaa...., ahjumma....ahjumma menyesal”


Woo Joo akhirnya bersuara, dia menanggapi dingin, “Apa aku harus memafkan kalian ?”


Sue Lim sontak menatap putranya. Woo Joo bertanya untuk apa ia harus memaafkan mereka berdua, “Di saat aku menderita karena salah tuduh dan dipenjara pun, aku tetap memikirkan apa yang terjadi pada Hye Na. Ternyata dia dibunuh karena bocornya kertas ujian ?”


Woo Joo memejamkan mata, dia mengingat kemarahan Hye Na saat melihat keseluruhan hasil ujiannya menempati peringkat dua, “Ini tidak adil. Aku sangat tidak terima”

Hye Na meremas kertas hasil ujiannya dia lalu melangkah meninggalkan Woo Joo.


Woo Joo berujar lirih, “Itu sebabnya...Itu sebabnya dia bilang ini tidak adil. Karena dia tahu soal bocornya kertas ujian itu. Kenapa dia harus mati karena membenci ketidakadilan ?”


EmoticonEmoticon